PESERTA DIDIK SEHARUSNYA TIDAK HANYA DIBEKALI CARA BERPIKIR SAJA

oleh Yar Johan

" Perbaikan kualitas peserta didik tentu saja akan berhasil jika peserta didik dibekali cara berpikir, beretika, berestitika, memiliki moralitas yang baik dan memiliki nilai tanggung jawab sosial (social responsibilities value)"


 
Bila peserta didik hanya dibekali cara berpikir saja maka akan menjadi ancaman dan menjadi cerdas tapi tidak terdidik. Ancaman tersebut dapat berimplikasi diantaranya, Pertama dapat menimbulkan degradasi visi kebangsaan pada peserta didik generasi muda penerus bangsa. Nilai-nilai dasar nasionalisme, kepeloporan, dan kesetiaan yang berwatak kebangsaan sebagaimana ditanamkan dengan susah payah sekarang ini, dapat mengalami erosi dan pendangkalan makna sehingga pada gilirannya akan menjadi kabur dari jati diri generasi muda di masa datang. Akibatnya, bisa jadi terjadi cita rasa bangsa yang mempunyai nilai-nilai budaya yang kaya, akan ditelan oleh arus globalisasi budaya hegemonik dari negara maju. Kedua peserta didik akan memiliki kepribadian ganda. Implikasi nyata dari pengaruh desakan global yang menawarkan berbagai ragam perubahan ditengah masyarakat akan menimbulkan kebingungan atau ketegangan psikis yang tidak jarang melahirkan watak split-personality (pecah kepribadiannya). Hal ini terjadi sebagai akibat langsung dari kejutan-kejutan informasi yang pada umumnya sulit diantisipasi oleh masyarakat. Ketiga mencetak peserta didik yang hedonism dan involusi budaya. Sebagai rantai kelanjutan dari kondisi perwatakan masyarakat transisional di atas adalah secara dramatis selalu membawa akibat menguatnya budaya baru dan lemahnya fungsi filtasi budaya lama. Satu diantara banyak ciri yang diakibatkannya adalah tingginya sikap pragmatis sebagai cikal bakal tumbuh suburnya sikap pemamah atau komsumtif hasil, barang dan jasa dari luar. Baik dalam bentuk produk teknologi maupun lainya, tanpa disertai kreativitas, pendidikan moral, keterampilan diri dalam berkarya dan berinovasi.
Peserta didik penentu arah bangsa http://ft.umm.ac.id

PERANAN GELOMBANG TERHADAP DINAMIKA GARIS PANTAI (Bagian 1)

Oleh Yar Johan, Hartoni dan Dafiuddin Salim

"Suatu pantai mengalami abrasi, akresi (sedimentasi) atau tetap stabil tergantung pada sedimen yang masuk (suplai) dan yang meninggalkan pantai tersebut"

Pantai selalu menyesuaikan bentuk profilnya sedemikian sehingga mampu menghancurkan energi gelombang yang datang. Penyesuaian bentuk tersebut merupakan tanggapan dinamis alami pantai terhadap laut. Ada dua tipe tanggapan pantai dinamis terhadap gerak gelombang, yaitu tanggapan terhadap kondisi gelombang normal dan tanggapan terhadap kondisi gelombang Bandai. Kondisi gelombang normal terjadi dalam waktu yang lebih lama, dan energy gelombang dengan mudah dapat dihancurkan oleh mekanisme pertahanan alami pantai. Pada saat badai terjadi gelombang yang mempunyai energi besar. Sering pertahanan alami pantai tidak mampu menahan serangan gelombang, sehingga pantai dapat terabrasi. Setelah gelombang besar redah, pantai akan kembali ke bentuk semula oleh pengaruh gelombang normal. Tetapi ada kalanya pantai yang terabrasi tersebut tidak kembali kebentuk semula karena material pentuk pantai terbawa arus ke tempatlain dan tidak kembali ke tempat semula. Dengan demikian pantai tersebut diatas akan mengendap di daerah yang lebih tenang, seperti muara sungai, teluk, pelabuhan, dan sebagainya, sehingga mengakibatkan sedimentasi di daerah tersebut.

RAPFISH: KELEBIHAN DAN KELEMAHANNYA

Oleh Yar Johan


"Salah satu alat untuk analisis status kelestarian sumberdaya, yang pada awalnya dikembangkan oleh Fisheries Centre, UBC-Canada. Prinsip aplikasi alat analisis ini berbasis indikator dengan pendekatan penyelesaian berbasis multi dimension scaling (MDS)"


RAPFISH dapat diterima sebagai salah satu alat untuk menganalisis kelestarian sumberdaya (perikanan).

Contoh Aplikasi Rapfish (http://www.rapfish.org/)


Karena RAPFISH merupakan analisis evaluasi keberlanjutan sederhana namun komprehensif, assessment terhadap sumberdaya dapat dilakukan secara utuh sehingga hasil studi dapat dijadikan bahan acuan melakukan assessment  terhadap pengelolaan perikanan dimanapun. Replikasi dapat dilakukan untuk assessment status perikanan overtime maupun antar perikanan di suatu wilayah untuk assessment yang lebih luas (Fauzi dan Anna, 2005). Dengan menggunakan multidimensional scalling (MDS) dan metode ordinasi guna melakukan penilaian secara relatif keberlanjutan perikanan. RAPFISH melakukan skoring terhadap jumlah dari 5 dimensi yang terdiri dari ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan etik.

KONTRIBUSI PADANG LAMUN DALAM PRODUKTIVITAS EKOSISTEM PESISIR, DAN KETERKAITAN FUNGSIONALNYA

Oleh Yar Johan

"Ekosistem Padang Lamun kadang-kadang membentuk suatu komunitas yang merupakan habitat bagi berbagai jenis hewan laut. Komunitas lamun ini juga dapat memperlambat gerakan air, bahkan ada jenis lamun yang dapat dikonsumsi bagi penduduk sekitar pantai. Keberadaan ekosistem padang lamun  masih belum banyak dikenal  baik pada kalangan akademisi maupun  masyarakat umum, jika dibandingkan ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove"

Padang lamun merupakan habitat bagi beberapa organisme laut. Hewan yang hidup pada padang lamun ada berbagai penghuni tetap ada  pula yang bersifat sebagai pengunjung. Hewan   yang  datang sebagai pengunjung biasanya untuk memijah atau mengasuh anaknya seperti ikan. Selain  itu, ada pula hewan yang datang mencari makan seperti sapi laut (dugong-dugong) dan penyu (turtle) yang makan lamun Syriungodium isoetifolium dan Thalassia hemprichii.

ALIRAN MATERI DAN PIRAMIDA TROFIK (MAKANAN) DI EKOSISTEM LAMUN


Oleh Yar Johan

" Lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktivitas organiknya, dimana hidup beraneka ragam biota laut seperti ikan, krustasea, moluska, dan cacing"

Lamun (sea grass) merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga yang hidup terendam di dalam laut. Umumnya membentuk padang lamun yang luas di dasar laut yang masih dapat dijangkau oleh cahaya matahari yang memadai bagi pertumbuhannya. Hidup di perairan yang dangkal dan jernih, dengan sirkulasi air yang baik. Hampir semua tipe substrat dapat ditumbuhi lamun, mulai dari substrat berlumpur sampai berbatu. merupakan ekosistem yang tinggi produktivitas organiknya, dimana hidup

MANA YANG LEBIH TEPAT ANTARA PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN BERBASIS SURPLUS PRODUKSI DENGAN BERBASIS EAFM DALAM KONDISI SUMBERDAYA PERIKANAN TROPIS YANG TINGGI BIODIVERSITASNYA?

Oleh Yar Johan

"Tujuan (goal) umum pengelolaan sumberdaya perikanan meliputi 4 (empat) aspek yaitu (1) untuk menjaga sumberdaya ikan pada kondisi atau diatas tingkat yang diperlukan bagi keberlanjutan produktivitas(tujuan biologi); (2) untuk meminimalkan dampak penangkapan ikan bagi lingkungan fisik serta sumberdaya non-target (by-catch), serta sumberdaya lainnya yang terkait (tujuan ekologi); (3) untuk memaksimalkan pendapatan nelayan (tujuan ekonomi); (4) untuk memaksimalkan peluang kerja/mata pencaharian nelayan atau masyarakat yang terlibat (tujuan sosial)". 

Dalam kondisi sumberdaya perikanan tropis yang tinggi biodiversitasnya pengelolaan sumberdaya perikanan berbasis pengelolaan perikanan terpadu dengan menggunakan pendekatan berbasis ekosistem (Ecosystem Approach Fisheries Management/EAFM), lebih tepat dibanding berbasis dengan  surplus produksi . Pengelolaan sumberdaya perikanan bersifat kompleks mencakup aspek biologi, ekonomi, sosial budaya, hukum, dan politik. Tujuan dikelolanya perikanan antara lain tercapainya optimalisasi ekonomi pemanfaatan sumberdaya ikan sekaligus terjaga kelestariannya.

MENGAPA MUNCUL EAFM (ECOSYSTEM APPROACH FOR FISHERIES MANAGEMENT)? BAGAIMANA MELAKUKAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN BERDASARKAN PRINSIP EAFM


Oleh Yar Johan

"Skema pengelolaan perikanan terpadu dengan menggunakan pendekatan berbasis ekosistem (Ecosystem Approach Fisheries Management/EAFM) merupakan salah satu contoh bagaimana pemerintah berperan dan mengajak masyarakat untuk berpartisipasi demi kelangsungan dan kelestarian ekosistem pesisir yang menjadi sumber kehidupan"

Penyusunan sistem pengelolaan perikanan terpadu dengan menggunakan pendekatan berbasis ekosistem (Ecosystem Approach Fisheries Management/EAFM) agar bisa menjamin pemanfaatan perikanan jangka panjang sekaligus perlindungan stok ikan di alam sehingga tewujud rencana pengelolaan perikanan yang berkelanjutan ini sejalan dengan kebijakan dari FAO yang telah menyatakan bahwa 1. Perikanan harus dikelola pada batas yang memberikan dampak yang dapat ditoleransi oleh ekosistem, 2. Interaksi ekologis antar sumberdaya ikan dan ekosistemnya harus dijaga, 3. Perangkat pengelolaan sebaiknya compatible untuk semua distribusi sumberdaya ikan, 4. Prinsip kehati-hatian dalam proses pengambilan keputusan pengelolaan perikanan, 5. Tata kelola perikanan mencakup kepentingan sistem ekologi dan sistem manusia.

Ecosystem Approach Fisheries Management/EAFM (www.seagrant.uaf.edu)


DILIHAT DARI TUJUH SEKTOR PEMBANGUNAN KELAUTAN, APAKAH PENGELOLAAN SUMBERDAYA HAYATI PESISIR DAN LAUT DAPAT DILAKUKAN SECARA TERPISAH

Oleh Yar Johan

" Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) merupakan pembangunan yang dapat mempertemukan kebutuhan pada saat ini tanpa melupakan kebutuhan generasi mendatang"

Dalam pengelolaan sumberdaya hayati dan laut ketujuh sektor pembangunan kelautan tidak bisa dipisahkan antara satu sama yang lain. Dimana sektor perhubungan laut, sektor, wisata bahari, sektor energy dan sumberdya mineral, sektor bangunan kelautan, sektor jasa kelautan, sektor industry maritim dan sektor perikanan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahakan dan saling terkait. Sehingga jika tujuh sektor pembangunan kelautan dapat dilakukan secara terpadu maka akan mampu mendayagunakan fungsi laut dan sumberdaya kelautan (ocean based resources) secara bijaksana sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat dengan didukung oleh pilar-pilar ekonomi sumberdaya daratan (land based resources) yang tangguh dan mampu bersaing dalam kancah kompetisi global antar bangsa, pembangunan berkelanjutan akan terwujud.

MANA YANG LEBIH MUDAH MELAKUKAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA HAYATI PESISIR DAN LAUT ANTARA DAERAH TROPIS DAN NON TROPIS SERTA ANTARA DARATAN BENUA DENGAN DARATAN KEPULAUAN

Oleh Yar Johan

 "Kompleksitas wilayah pesisir sebagai multi-use zone menuntut adanya upaya-upaya pengelolaan secara terpadu dengan tahapan yang jelas, hal ini yang membuat pengelolaan sumberdaya hayati daerah tropis lebih sulit dibanding non tropis"



Pengelolaan sumberdaya hayati pesisir dan laut di daerah non tropis yang lebih mudah di banding tropis. Daerah tropis memiliki ekosistem alami dengan keragaman yang tinggi diantaranya memiliki ekosistem terumbu karang, mangrove dan padang lamun. Hal ini betul-betul butuh proses perencaan yang mutlak lebih rumit untuk mengatur pengelolaan sumberdaya hayati, sosial ekonomi masyarakat menjadi satu kesatuan.  Daerah tropis memerlukan model pengelolaan sumberdaya hayati wilayah pesisir dan laut yang selama ini berbasis ekosistem (mangrove, terumbu karang, lamun dan pulau-pulau kecil) belum mengakomodasikan kawasan khusus yang memiliki keterkaitan ekologis, ekonomi, sosial, geologis dan antropologis yang komplek. Kompleksitas wilayah pesisir sebagai multi-use zone menuntut adanya upaya-upaya pengelolaan secara terpadu dengan tahapan yang jelas, hal ini yang membuat pengelolaan sumberdaya hayati daerah tropis lebih sulit dibanding non tropis.

PENGELOLAAN SUMBERDAYA HAYATI PESISIR DAN LAUT SECARA MIKRO DENGAN MENERAPKAN PRINSIP PENGELOLAAN TERPADU

Oleh Yar Johan

"Sumber utama pencemaran pesisir dan lautan berasal dari darat (land-based pollution sources) yang terdiri dari tiga jenis, yaitu dari kegiatan industri, kegiatan rumah tangga, dan kegiatan pertanian "

Pengelolaan sumberdaya hayati pesisir dan laut secara optimal berkesinambungan hanya dapat terwujud jika pengelolaan wilayah pesisir dilakukan secara terpadu dengan definisi yang jelas. Salah satu kunci dalam pengelolaan wilayah pesisir terpadu tersebut adalahadanya visi, tujuan dan sasaran bersama (common vision, goals and target), serta batasan-batasan pengelolaan pesisir wilayah.

KEBIJAKAN MAKRO BERUPA PENGATURAN TATA RUANG WILAYAH DAPAT DIGUNAKAN UNTUK PENGELOLAAN SUMBERDAYA HAYATI PESISIR DAN LAUT


oleh Yar Johan

"Tataruang Pesisir merupakan salah satu alat (tool) pengelolaan sumberdaya pesisir jika diterapkan secara konsisten. Dalam penyusunana tataruang yang baik, seharusnya dilihat dulu kegiatan apa yang menjadi leading sektor di wilayah pesisir"



Jika leading sektornya perikanan, maka ditetapkan zona dimana kegiatan yang dominan adalah perikanan, serta membolehkan kegiatan lain yang bersifat mendukung (sinergis). Lalu tataruang di daratnya mengikuti fokus dari tataruang di pesisir, sehingga kegiatan industri yang limbahnya dapat merusak budidaya perikanan di pesisir tidak diizinkan. Zona merupakan suatu ruang wilayah pesisir yang ditetapkan untuk menyatukan kegiatan-kegiatan yang sinergis dan saling mendukung serta memilah kegiatan yang bertentangan (imcompatibel). Pada zona yang telah ditetapkan maka diprioritaskan pembangunan prasarana pendukung kegiatan-kegiatan yang dizinkan di zona tersebut dan Pemda menyeleksi industri lainnya yang akan masuk ke wilayah pesisir tersebut.

PENGELOLAAN SUMBERDAYA HAYATI PESISIR DAN LAUT SECARA MIKRO DENGAN MENERAPKAN PRINSIP PENGELOLAAN TERPADU


Oleh  Yar Johan


"Pengelolaan sumberdaya hayati pesisir dan laut secara optimal berkesinambungan hanya dapat terwujud jika pengelolaan wilayah pesisir dilakukan secara terpadu dengan definisi yang jelas. Salah satu kunci dalam pengelolaan wilayah pesisir terpadu tersebut adalahadanya visi, tujuan dan sasaran bersama (common vision, goals and target), serta batasan-batasan pengelolaan pesisir wilayah".

Dalam satu dekade belakangan ini, laju kerusakan sumberdaya pesisir telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Kerusakan fisik sumberdaya pesisir umumnya terjadi pada ekosistem mangrove, terumbu karang dan rumput laut. Berdasarkan survei line transect penutupan karang hidup, 6,20 % terumbu karang Indonesia yang masih berada dalam kondisi sangat baik, 23.72 % dalam kondisi baik, 28.30 % kondisi sedang dan 41.78 % dalam kondisi rusak (Suharsono 1998). Dari kondisi terumbu karang tersebut, ternyata terumbu karang di kawasan barat Indonesia memiliki kondisi yang lebih buruk dibandingkan dengan terumbu karang di kawasan tengah dan timur Indonesia.

HIERARKI PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN INDONESIA

  oleh Yar johan 

 

"Pada tahun 2002 terdapat amandemen UUD 1945, Pasal 33 Ayat (4) yang menjadi bahwa perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan dan kemajuan ekonomi nasional"

Dengan demikian perekonomian nasional ditata mengacu  pada demokrasi ekonomi yang mengandung prinsip keberlanjutan dan berwawasan lingkungan. Adanya terminologi keberlanjutan dan berwawasan lingkungan inilah yang menjadi sumber hukum perlunya undang-undang tentang Pengelolaan Lingkungan.

PARADOKS PRINSIP PENCEMAR MEMBAYAR (POLLUTER MUST PAY PRINCIPLE) DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP GLOBAL

Oleh Yar johan[*] 


"Hal itu menjadi alasan kenapa isu kerusakan lingkungan hidup ini harus menjadi tanggung jawab bersama, tanpa membedakan negara besar atau kecil, kaya atau miskin serta pelaku atau korban. Pelaku pencemaran atau yang diindikasikan mempunyai kontribusi besar pada terjadinya kerusakan lingkungan global, mempunyai kewajiban lebih besar daripada korban pencemaran atau yang tidak melakukan upaya-upaya perusakan lingkungan hidup"


Dalam prinsip ke 7 Deklarasi Rio bagian lingkungan dan Development dikatakan bahwa : In view of the different contributions to global environtmental degradation, States have Common but Differentiated Responsibilities. The developed countries acknoeledge the responsibility that they bear in the international pursuit of sustainable development in view of the pressures their societies place on the global environtmentand of the technologies and financial resources they command. (Mengingat adanya perbedaan bentuk bahwa sumbangsih yang menyebabkan terjadinya penurunan keadaan lingkungan dunia, maka negara-negara secara bersama-sama akan tetapi memiliki bentuk pertanggungjawaban yang berbeda. Negara-negara maju mengakui akan adanya tanggung jawab yang mereka pikul tehadap dalam usaha dalam perangka melakukan upaya pencarian msyarakat internasional dalam pembangaunan berkelanjutan mengingat besarnya tekanan, kelompok mereka dalam lingkungan global dan teknologi serta sumber dana yang mereka kuasai).
polluter pays principle yang mesti diterapkan

Puisi Aku Rindu Ayah

Oleh Yar Johan

Pagi ini kutatap langkah demi langkah kaki yang kutapaki
Memburu jelaga pagi menembus sinar mentari
Tatapanku memburu bersemayam di awan-awan
Mencari setiap jengkal sudut
Ayah di manakah dirimu kini merada?

***

Aku rindu ayah
Rindu yang tak tersahut oleh kicauan burung menyambut pagi
Rindu tak membiaskan pelangi melingkar di pelupuk mata
Rindu mengendus dingin malam yang selalu berujar
Rindu anak bayi pada induknya yang pergi tak tersahut

***

Aku rindu ayah
Rindu tak bisa aku lukis di atas tapak ini
Rindu tak bisa kuselami dalam samudera
Rindu membuat aku tertatih dan menangis berlanjut tertawa
Kembali menetes setiap jengkal sudut-sudut tabir hidup

***
Aku rindu ayah
Bogor [2012]