ENGGANO ISLAND

Oleh Yar Johan



Perjalanan yang cukup melelahkan dan membahagiankan ketika bisa ke Enggano Island. Saya berkunjung ke sana sebenarnya ketika bulan November 2012 kemarin. Ini koleksi keindahan Enggano Island. Ketika disana lagi musim hujan. Untuk artikel khusus perjalanan saya ke sana ditunggu saja.

Welcome Enggano Island

Penulis bersama Penduduk Pulau Enggano

Kapal KMP Polo Tello Transportasi yang hanya ada 2 kali seminggu

Kondisi kapal menuju enggano


Tiket Pulau Bai Ke Pulau Enggano

Kadus di salah satu desa Pulau Enggano

Tak ada angkot. Truk tentara menjadi armada umum membelah Pulau Enggano selama 2 jam

Salah Satu Rumah Penduduk

Kantor Kecamatan yang akan disulap menjadi Kantor Bupati

Anak-anak SD lagi istirahat 

Kondisi Jembatan yang ada di Pulau Enggano

Rumah nelayan enggano

Kondisi pelabuhan enggano di kala sore hari

Menurunkan barang-barang angkutan

Gadis enggano

Menyambut pagi di Pelabuhan Pulau Bai

Suasana di dalam kapal melepas Pulau Enggano 14 jam. Sepi, Kata kapten kapal rata-rata penumpangnya yaitu 40 orang/trip

Teman yang terpisah dengan istrinya di Pulau Enggano

Pelabuhan Pulau Bai di kala pagi
Membelah Samudera



PERANAN GELOMBANG TERHADAP DINAMIKA GARIS PANTAI (Bagian 1)

Oleh Yar Johan, Hartoni dan Dafiuddin Salim

"Suatu pantai mengalami abrasi, akresi (sedimentasi) atau tetap stabil tergantung pada sedimen yang masuk (suplai) dan yang meninggalkan pantai tersebut"

Pantai selalu menyesuaikan bentuk profilnya sedemikian sehingga mampu menghancurkan energi gelombang yang datang. Penyesuaian bentuk tersebut merupakan tanggapan dinamis alami pantai terhadap laut. Ada dua tipe tanggapan pantai dinamis terhadap gerak gelombang, yaitu tanggapan terhadap kondisi gelombang normal dan tanggapan terhadap kondisi gelombang Bandai. Kondisi gelombang normal terjadi dalam waktu yang lebih lama, dan energy gelombang dengan mudah dapat dihancurkan oleh mekanisme pertahanan alami pantai. Pada saat badai terjadi gelombang yang mempunyai energi besar. Sering pertahanan alami pantai tidak mampu menahan serangan gelombang, sehingga pantai dapat terabrasi. Setelah gelombang besar redah, pantai akan kembali ke bentuk semula oleh pengaruh gelombang normal. Tetapi ada kalanya pantai yang terabrasi tersebut tidak kembali kebentuk semula karena material pentuk pantai terbawa arus ke tempatlain dan tidak kembali ke tempat semula. Dengan demikian pantai tersebut diatas akan mengendap di daerah yang lebih tenang, seperti muara sungai, teluk, pelabuhan, dan sebagainya, sehingga mengakibatkan sedimentasi di daerah tersebut.

RAPFISH: KELEBIHAN DAN KELEMAHANNYA

Oleh Yar Johan


"Salah satu alat untuk analisis status kelestarian sumberdaya, yang pada awalnya dikembangkan oleh Fisheries Centre, UBC-Canada. Prinsip aplikasi alat analisis ini berbasis indikator dengan pendekatan penyelesaian berbasis multi dimension scaling (MDS)"


RAPFISH dapat diterima sebagai salah satu alat untuk menganalisis kelestarian sumberdaya (perikanan).

Contoh Aplikasi Rapfish (http://www.rapfish.org/)


Karena RAPFISH merupakan analisis evaluasi keberlanjutan sederhana namun komprehensif, assessment terhadap sumberdaya dapat dilakukan secara utuh sehingga hasil studi dapat dijadikan bahan acuan melakukan assessment  terhadap pengelolaan perikanan dimanapun. Replikasi dapat dilakukan untuk assessment status perikanan overtime maupun antar perikanan di suatu wilayah untuk assessment yang lebih luas (Fauzi dan Anna, 2005). Dengan menggunakan multidimensional scalling (MDS) dan metode ordinasi guna melakukan penilaian secara relatif keberlanjutan perikanan. RAPFISH melakukan skoring terhadap jumlah dari 5 dimensi yang terdiri dari ekologi, ekonomi, sosial, teknologi dan etik.

KONTRIBUSI PADANG LAMUN DALAM PRODUKTIVITAS EKOSISTEM PESISIR, DAN KETERKAITAN FUNGSIONALNYA

Oleh Yar Johan

"Ekosistem Padang Lamun kadang-kadang membentuk suatu komunitas yang merupakan habitat bagi berbagai jenis hewan laut. Komunitas lamun ini juga dapat memperlambat gerakan air, bahkan ada jenis lamun yang dapat dikonsumsi bagi penduduk sekitar pantai. Keberadaan ekosistem padang lamun  masih belum banyak dikenal  baik pada kalangan akademisi maupun  masyarakat umum, jika dibandingkan ekosistem terumbu karang dan ekosistem mangrove"

Padang lamun merupakan habitat bagi beberapa organisme laut. Hewan yang hidup pada padang lamun ada berbagai penghuni tetap ada  pula yang bersifat sebagai pengunjung. Hewan   yang  datang sebagai pengunjung biasanya untuk memijah atau mengasuh anaknya seperti ikan. Selain  itu, ada pula hewan yang datang mencari makan seperti sapi laut (dugong-dugong) dan penyu (turtle) yang makan lamun Syriungodium isoetifolium dan Thalassia hemprichii.

ALIRAN MATERI DAN PIRAMIDA TROFIK (MAKANAN) DI EKOSISTEM LAMUN


Oleh Yar Johan

" Lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktivitas organiknya, dimana hidup beraneka ragam biota laut seperti ikan, krustasea, moluska, dan cacing"

Lamun (sea grass) merupakan satu-satunya tumbuhan berbunga yang hidup terendam di dalam laut. Umumnya membentuk padang lamun yang luas di dasar laut yang masih dapat dijangkau oleh cahaya matahari yang memadai bagi pertumbuhannya. Hidup di perairan yang dangkal dan jernih, dengan sirkulasi air yang baik. Hampir semua tipe substrat dapat ditumbuhi lamun, mulai dari substrat berlumpur sampai berbatu. merupakan ekosistem yang tinggi produktivitas organiknya, dimana hidup

MANA YANG LEBIH TEPAT ANTARA PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN BERBASIS SURPLUS PRODUKSI DENGAN BERBASIS EAFM DALAM KONDISI SUMBERDAYA PERIKANAN TROPIS YANG TINGGI BIODIVERSITASNYA?

Oleh Yar Johan

"Tujuan (goal) umum pengelolaan sumberdaya perikanan meliputi 4 (empat) aspek yaitu (1) untuk menjaga sumberdaya ikan pada kondisi atau diatas tingkat yang diperlukan bagi keberlanjutan produktivitas(tujuan biologi); (2) untuk meminimalkan dampak penangkapan ikan bagi lingkungan fisik serta sumberdaya non-target (by-catch), serta sumberdaya lainnya yang terkait (tujuan ekologi); (3) untuk memaksimalkan pendapatan nelayan (tujuan ekonomi); (4) untuk memaksimalkan peluang kerja/mata pencaharian nelayan atau masyarakat yang terlibat (tujuan sosial)". 

Dalam kondisi sumberdaya perikanan tropis yang tinggi biodiversitasnya pengelolaan sumberdaya perikanan berbasis pengelolaan perikanan terpadu dengan menggunakan pendekatan berbasis ekosistem (Ecosystem Approach Fisheries Management/EAFM), lebih tepat dibanding berbasis dengan  surplus produksi . Pengelolaan sumberdaya perikanan bersifat kompleks mencakup aspek biologi, ekonomi, sosial budaya, hukum, dan politik. Tujuan dikelolanya perikanan antara lain tercapainya optimalisasi ekonomi pemanfaatan sumberdaya ikan sekaligus terjaga kelestariannya.

MENGAPA MUNCUL EAFM (ECOSYSTEM APPROACH FOR FISHERIES MANAGEMENT)? BAGAIMANA MELAKUKAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN BERDASARKAN PRINSIP EAFM


Oleh Yar Johan

"Skema pengelolaan perikanan terpadu dengan menggunakan pendekatan berbasis ekosistem (Ecosystem Approach Fisheries Management/EAFM) merupakan salah satu contoh bagaimana pemerintah berperan dan mengajak masyarakat untuk berpartisipasi demi kelangsungan dan kelestarian ekosistem pesisir yang menjadi sumber kehidupan"

Penyusunan sistem pengelolaan perikanan terpadu dengan menggunakan pendekatan berbasis ekosistem (Ecosystem Approach Fisheries Management/EAFM) agar bisa menjamin pemanfaatan perikanan jangka panjang sekaligus perlindungan stok ikan di alam sehingga tewujud rencana pengelolaan perikanan yang berkelanjutan ini sejalan dengan kebijakan dari FAO yang telah menyatakan bahwa 1. Perikanan harus dikelola pada batas yang memberikan dampak yang dapat ditoleransi oleh ekosistem, 2. Interaksi ekologis antar sumberdaya ikan dan ekosistemnya harus dijaga, 3. Perangkat pengelolaan sebaiknya compatible untuk semua distribusi sumberdaya ikan, 4. Prinsip kehati-hatian dalam proses pengambilan keputusan pengelolaan perikanan, 5. Tata kelola perikanan mencakup kepentingan sistem ekologi dan sistem manusia.

Ecosystem Approach Fisheries Management/EAFM (www.seagrant.uaf.edu)


DILIHAT DARI TUJUH SEKTOR PEMBANGUNAN KELAUTAN, APAKAH PENGELOLAAN SUMBERDAYA HAYATI PESISIR DAN LAUT DAPAT DILAKUKAN SECARA TERPISAH

Oleh Yar Johan

" Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) merupakan pembangunan yang dapat mempertemukan kebutuhan pada saat ini tanpa melupakan kebutuhan generasi mendatang"

Dalam pengelolaan sumberdaya hayati dan laut ketujuh sektor pembangunan kelautan tidak bisa dipisahkan antara satu sama yang lain. Dimana sektor perhubungan laut, sektor, wisata bahari, sektor energy dan sumberdya mineral, sektor bangunan kelautan, sektor jasa kelautan, sektor industry maritim dan sektor perikanan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahakan dan saling terkait. Sehingga jika tujuh sektor pembangunan kelautan dapat dilakukan secara terpadu maka akan mampu mendayagunakan fungsi laut dan sumberdaya kelautan (ocean based resources) secara bijaksana sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat dengan didukung oleh pilar-pilar ekonomi sumberdaya daratan (land based resources) yang tangguh dan mampu bersaing dalam kancah kompetisi global antar bangsa, pembangunan berkelanjutan akan terwujud.

MANA YANG LEBIH MUDAH MELAKUKAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA HAYATI PESISIR DAN LAUT ANTARA DAERAH TROPIS DAN NON TROPIS SERTA ANTARA DARATAN BENUA DENGAN DARATAN KEPULAUAN

Oleh Yar Johan

 "Kompleksitas wilayah pesisir sebagai multi-use zone menuntut adanya upaya-upaya pengelolaan secara terpadu dengan tahapan yang jelas, hal ini yang membuat pengelolaan sumberdaya hayati daerah tropis lebih sulit dibanding non tropis"



Pengelolaan sumberdaya hayati pesisir dan laut di daerah non tropis yang lebih mudah di banding tropis. Daerah tropis memiliki ekosistem alami dengan keragaman yang tinggi diantaranya memiliki ekosistem terumbu karang, mangrove dan padang lamun. Hal ini betul-betul butuh proses perencaan yang mutlak lebih rumit untuk mengatur pengelolaan sumberdaya hayati, sosial ekonomi masyarakat menjadi satu kesatuan.  Daerah tropis memerlukan model pengelolaan sumberdaya hayati wilayah pesisir dan laut yang selama ini berbasis ekosistem (mangrove, terumbu karang, lamun dan pulau-pulau kecil) belum mengakomodasikan kawasan khusus yang memiliki keterkaitan ekologis, ekonomi, sosial, geologis dan antropologis yang komplek. Kompleksitas wilayah pesisir sebagai multi-use zone menuntut adanya upaya-upaya pengelolaan secara terpadu dengan tahapan yang jelas, hal ini yang membuat pengelolaan sumberdaya hayati daerah tropis lebih sulit dibanding non tropis.

PENGELOLAAN SUMBERDAYA HAYATI PESISIR DAN LAUT SECARA MIKRO DENGAN MENERAPKAN PRINSIP PENGELOLAAN TERPADU

Oleh Yar Johan

"Sumber utama pencemaran pesisir dan lautan berasal dari darat (land-based pollution sources) yang terdiri dari tiga jenis, yaitu dari kegiatan industri, kegiatan rumah tangga, dan kegiatan pertanian "

Pengelolaan sumberdaya hayati pesisir dan laut secara optimal berkesinambungan hanya dapat terwujud jika pengelolaan wilayah pesisir dilakukan secara terpadu dengan definisi yang jelas. Salah satu kunci dalam pengelolaan wilayah pesisir terpadu tersebut adalahadanya visi, tujuan dan sasaran bersama (common vision, goals and target), serta batasan-batasan pengelolaan pesisir wilayah.

KEBIJAKAN MAKRO BERUPA PENGATURAN TATA RUANG WILAYAH DAPAT DIGUNAKAN UNTUK PENGELOLAAN SUMBERDAYA HAYATI PESISIR DAN LAUT


oleh Yar Johan

"Tataruang Pesisir merupakan salah satu alat (tool) pengelolaan sumberdaya pesisir jika diterapkan secara konsisten. Dalam penyusunana tataruang yang baik, seharusnya dilihat dulu kegiatan apa yang menjadi leading sektor di wilayah pesisir"



Jika leading sektornya perikanan, maka ditetapkan zona dimana kegiatan yang dominan adalah perikanan, serta membolehkan kegiatan lain yang bersifat mendukung (sinergis). Lalu tataruang di daratnya mengikuti fokus dari tataruang di pesisir, sehingga kegiatan industri yang limbahnya dapat merusak budidaya perikanan di pesisir tidak diizinkan. Zona merupakan suatu ruang wilayah pesisir yang ditetapkan untuk menyatukan kegiatan-kegiatan yang sinergis dan saling mendukung serta memilah kegiatan yang bertentangan (imcompatibel). Pada zona yang telah ditetapkan maka diprioritaskan pembangunan prasarana pendukung kegiatan-kegiatan yang dizinkan di zona tersebut dan Pemda menyeleksi industri lainnya yang akan masuk ke wilayah pesisir tersebut.

PENGELOLAAN SUMBERDAYA HAYATI PESISIR DAN LAUT SECARA MIKRO DENGAN MENERAPKAN PRINSIP PENGELOLAAN TERPADU


Oleh  Yar Johan


"Pengelolaan sumberdaya hayati pesisir dan laut secara optimal berkesinambungan hanya dapat terwujud jika pengelolaan wilayah pesisir dilakukan secara terpadu dengan definisi yang jelas. Salah satu kunci dalam pengelolaan wilayah pesisir terpadu tersebut adalahadanya visi, tujuan dan sasaran bersama (common vision, goals and target), serta batasan-batasan pengelolaan pesisir wilayah".

Dalam satu dekade belakangan ini, laju kerusakan sumberdaya pesisir telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Kerusakan fisik sumberdaya pesisir umumnya terjadi pada ekosistem mangrove, terumbu karang dan rumput laut. Berdasarkan survei line transect penutupan karang hidup, 6,20 % terumbu karang Indonesia yang masih berada dalam kondisi sangat baik, 23.72 % dalam kondisi baik, 28.30 % kondisi sedang dan 41.78 % dalam kondisi rusak (Suharsono 1998). Dari kondisi terumbu karang tersebut, ternyata terumbu karang di kawasan barat Indonesia memiliki kondisi yang lebih buruk dibandingkan dengan terumbu karang di kawasan tengah dan timur Indonesia.

MENGAPA PERLU ILMU PENGELOLAAN SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUTAN

Oleh Yar Johan

 
"Sumberdaya pesisir dan lautan merupakan kekayaan alam yang sangat bernilai yang harus dikelola dengan pendekatan pembangunan berkelanjutan (on sustainable basis)"

  
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau sebanyak 17.504 pulau dengan garis pantai sepanjang ±81.000 km, serta kawasan laut mencapai 5,8 Juta km­­­­­­­2. Dari potensi fisik tersebut, Indonesia dikaruniai kekayaan sumberdaya pesisir dan lautan yang besar dan beragam. Total potensi perikanan ± 6,4 juta ton ikan pertahun. Potensi lainya adalah sumberdaya minyak bumi, gas bumi, mineral, dan potensi energi non potensial serta jasa kelautan seperti tranportasi laut, industri maritim dan wisata bahari. Selain itu, wilayah pesisir dan lautan dikenal pula sebagai wilayah yang rentan (fragile) terhadap tekanan pembangunan.

POTENSI SUMBERDAYA PESISIR DAN LAUTAN DI KOTA SABANG, PROPINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

oleh: Yar Johan


"Ingat Sabang, ingat Merauke, setidaknya itu adalah rangkaian kata dalam lagu dari Sabang sampai Merauke (karya R. Surarjo)"



1. PENDAHULUAN

Kota Sabang adalah salah satu kota di Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Kota ini berupa kepulauan di seberang utara pulau Sumatera, dengan Pulau Weh sebagai pulau terbesar. Kota Sabang merupakan zona ekonomi bebas Indonesia, ia sering disebut sebagai titik paling barat Indonesia, tepatnya di Pulau Benggala. Kota Sabang telah dikenal luas sebagai pelabuhan alam bernama Kolen Station oleh pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1881. Pada tahun 1887, Firma Delange dibantu Sabang Haven memperoleh kewenangan menambah, membangun fasilitas dan sarana penunjang pelabuhan (Gambar 1). Era pelabuhan bebas di Sabang dimulai pada tahun 1895, dikenal dengan istilah vrij haven dan dikelola Maatschaappij Zeehaven en Kolen Station yang selanjutnya dikenal dengan nama Sabang Maatschaappij. Perang Dunia II ikut mempengaruhi kondisi Sabang dimana pada tahun 1942 Sabang diduduki pasukan Jepang, kemudian dibombardir pesawat Sekutu dan mengalami kerusakan fisik hingga kemudian terpaksa ditutup.