MANA YANG LEBIH TEPAT ANTARA PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN BERBASIS SURPLUS PRODUKSI DENGAN BERBASIS EAFM DALAM KONDISI SUMBERDAYA PERIKANAN TROPIS YANG TINGGI BIODIVERSITASNYA?

Oleh Yar Johan

"Tujuan (goal) umum pengelolaan sumberdaya perikanan meliputi 4 (empat) aspek yaitu (1) untuk menjaga sumberdaya ikan pada kondisi atau diatas tingkat yang diperlukan bagi keberlanjutan produktivitas(tujuan biologi); (2) untuk meminimalkan dampak penangkapan ikan bagi lingkungan fisik serta sumberdaya non-target (by-catch), serta sumberdaya lainnya yang terkait (tujuan ekologi); (3) untuk memaksimalkan pendapatan nelayan (tujuan ekonomi); (4) untuk memaksimalkan peluang kerja/mata pencaharian nelayan atau masyarakat yang terlibat (tujuan sosial)". 

Dalam kondisi sumberdaya perikanan tropis yang tinggi biodiversitasnya pengelolaan sumberdaya perikanan berbasis pengelolaan perikanan terpadu dengan menggunakan pendekatan berbasis ekosistem (Ecosystem Approach Fisheries Management/EAFM), lebih tepat dibanding berbasis dengan  surplus produksi . Pengelolaan sumberdaya perikanan bersifat kompleks mencakup aspek biologi, ekonomi, sosial budaya, hukum, dan politik. Tujuan dikelolanya perikanan antara lain tercapainya optimalisasi ekonomi pemanfaatan sumberdaya ikan sekaligus terjaga kelestariannya.

Tujuan (goal) umum dalam pengelolaan sumberdaya perikanan meliputi 4 (empat) aspek yaitu biologi, ekologi, ekonomi, dan sosial. Tujuan sosial meliputi tujuan-tujuan politis dan budaya. Contoh masing-masing tujuan tersebut yaitu: (1) untuk menjaga sumberdaya ikan pada kondisi atau diatas tingkat yang diperlukan bagi keberlanjutan produktivitas(tujuan biologi); (2) untuk meminimalkan dampak penangkapan ikan bagi lingkungan fisik serta sumberdaya non-target (by-catch), serta sumberdaya lainnya yang terkait (tujuan ekologi); (3) untuk memaksimalkan pendapatan nelayan (tujuan ekonomi); (4) untuk memaksimalkan peluang kerja/mata pencaharian nelayan atau masyarakat yang terlibat (tujuan sosial).

Apalagi pengelolaan sumberdaya perikanan berbasisi EAFM memiliki prinsip yaitu Dibangun dan dilaksanakan melalui sebuah shared vision,  antar segenap pemangku kepentingan perikanan, Dilaksanakan secara kolaboratif dengen pendekatan partnership, Dapat dicapai (achievable) dan dioperasikan (operationable), Bersifat adaptif. Dan di Indonesia sendiri termasuk dalam kondisi sumberdaya perikanan tropis yang tinggi biodiversitasnya di dukung dengan adanya prinsip Pengelolaan perikanan merupakan sebuah kewajiban seperti yang telah diamanatkan oleh UU No 31/2004  j.o UU No 45/2009. Pengelolaan sistem perikanan tidak dapat dilepaskan dari tiga dimensi yang tidak terpisahkan satu sama lain yaitu (1) dimensi sumberdaya perikanan dan ekosistemnya; (2) dimensi pemanfaatan sumberdaya perikanan untuk kepentingan sosial ekonomi masyarakat; dan (3) dimensi kebijakan perikanan itu sendiri.

Pentingnya perubahan paradigma pengelolaan menuju pendekatan ekosistem dan wilayah perairan laut Indonesia dibagi menjadi 11 (sebelas) wilayah pengelolaan perikanan (WPP), maka sistem indikator yang telah dikembangkan untuk penerapan pendekatan ekosistem dalam pengelolaan perikanan menjadi penting. Semoga

Post a Comment