[PERIKANAN]: Biologi dan Ekologi Teripang Ekonomis (bagian 6)

Startegi Pengelolaan Teripang di Indonesia
Teripang (ketimun laut) merupakan salah satu anggota Echinodermata. Tubuh teripang bertekstur lunak, berdaging,   berbentuk silindris memanjang seperti ketimun. Ukuran tubuh  teripang berbeda-beda untuk setiap jenisnya. Sebagai  hewan dioecious (individu berkelamin jantan  terpisah dengan individu   berkelamin   betina), teripang jantan dan betina sulit dibedakan secara morfologis. Perbedaan akan tampak jelas bila dilihat di bawah mikroskop dengan menyayat  bagian organ kelamin jantan dan betina. Organ kelamin betina berwarna kekuningan dan berubah menjadi kecoklatan bila sudah matang. Sementara organ kelamin jantan berwarna bening keputihan.

Di alam, biasanya  teripang jantan dan betina hidup bergerombol. dengan demikian keadaan ini. memudahkan pengmabilan teripang untuk kemudian dipijahkan di hatchery. Fertilisasi teripang berlangsung secara eksternal. Telur yang sudah dibuahi akan berubah menjadi larva. Setelah itu, larva hidup di dasar perairan sampai memasuki tahap juvenil.

Jenis teripang yang sudah dipengelolaan
Pengelolaan teripang dilakukan karena teripang memiliki nilai ekonomis. Namun tidak semua teripang memiliki nilai ekonomis (dapat dimakan). Jenis teripang yang dapat dimakan dan memiliki nilai ekonomis hanya terbatas pada famili Holothuriidae genus Holothuria, Mulleria, dan Stichopus. Ketiga genus ini dapat ditemukan di Indonesia, dimana terdapat 23 spesies dan baru lima spesies (dari genus Holothuria) yang sudah dieksploitasi dan dimanfaatkan. Lima spesies yang dimaksud adalah Holothuria scabra (teripang  putih  atau  teripang  pasir),  Holothuria  edulis  (teripang  hitam),  Holothuria vacabunda  (teripang  getah  atau  keling),  Holothuria  vantiensis  (teripang  merah),  dan Holothuria marmorata (teripang cokelat).

Kandungan Gizi dan Manfaat Teripang
Dalam kehidupan sehari-hari teripang dimanfaatkan sebagai obat untuk beberapa penyakit, dan bahan pangan. Sebagai contoh, di Cina dilaporkan bahwa tubuh dan kulit teripang jenis Stichopus japonicus berkhasiat dalam menyembuhkan penyakit ginjal, paru-paru basah, anemia, anti-inflamasi, dan mencegah arteriosklerosis serta penuaan jaringan        tubuh. Selain itu, ekstrak murni teripang mempunyai kecenderungan menghasilkan holotoksin yang  efeknya  sama  dengan antimycin  berkadar 6,25- 25mikrogram/mililiter.

Teripang telah dikenal dan telah lama di manfaatkan oleh bangsa cina. Sejak dinasti ming. Teripang telah dijadikan hidangan istimewah pada perayaan pesta dan hari-hari besar serta mempunnyai khasiat pengobatan untuk penyakit. Di negara cina, dilaporkan secara medis tubuh dan kulit teripang jenis Stichopus japonicus berkhasiat menyembuhkan penyakit ginjal, paru-paru basah,anemia, anti inflamasi, dan mencegah arteriosklerosis serta penuaan jaringan.

Di indonesia, teripang telah dimanfaatkan cukup lama, terutama oleh masyarakat disekitar pantai, sebagai bahan makanan. Untuk konsumsi pasaran internasional, biasanya teripang diperdagangkan dalam bentuk daging dan kulit kering. Sebgai bahan pangan, teripang mempunyai nilai dan gizi yang cukup tinggi dan rasa sangat lejat. Teripang kering mempunyai kadar protein yang cukup tinggi, yaitu 82%. Selain itu, teripang mengandung asam lemak tidak jenuh jenis W-3 yang penting untuk kesehatan jantung. Kandungan gizi teripang ini secra lengkap dapat di lihat pada tabel berikut.


Habitat dan Penyebaran
Teripang dapat ditemukan hampir diseluruh perairan pantai, mulai dari daerah pasang surut yang dangkal sampai perairan yang lebih dalam. Teripang lebih menyukai perairan yang lebih jernih dan air relatif tenang. Umumnya, masing-masing jenis memiliki habitat yang spesifik. Misalnya, teripang putih banyak di temukan didaerah yang berpasir dan pasir berlumpur pada kedalaman 1-40 m. Teripang putih juga  sering ditemukan di perairan yang dangkal dan banyak di tumbuhi ilalang laut (lamun/sea grass). Sementara teripang koro dan teripang pandan banyak di temukan di perairan yang lebih dalam.

Habitatnya, terdapat jenis teripang yang hidup berkelompok dan ada pula yang hidup soliter (sendiri). Misalnya, teripang putih membentuk kelompok antara 3-10 ekor dan holothuria nobilis hidup berkelompok antara 10-30 ekor.

Sumber utama makanan teripang di alamyaitu kandungan zat organik dalam lumpur, detritus (sisa pembusukan bahan organik), dan planton. Jneis makanan yang lain adalah organisme –organisme kecil, masa bakteri yang terdapat dalam substrat, diatomae, protozoa, nematoda, algafilamen, kopepoda, strakoda, rumput laut, radoilaria, foraminifera dan potongan-potongan kecil hewan maupun tumbuhan laut, serta partikel-partikel pasir. Namun, partikel pasir bbukan makanan utama. Teripang sangat tergantung pada kondisi substrat  disekitarnya karena runga geraknya relatif terbatas dan sangat terlambat serta tidak mempunyai alat  pengunyah dan pemotong.

 Umumnya, bangsa Aspidochirotida merupakan pemakan deposit (deposit feeder). Namun, beberapa jenis diantara holothuria sp, mempunyai jenis tentakel semidendrit atau paltatodendrit sehingga bisa mendapatkan makanan dari lumpur disekitarnya dan aktif memanfaatkan (makanan) planton langsung dari perairan. Jenis teripang yang memakan suspensi (suspension feeder) umumnya berasal dari bangsa dendrocerotida yang mempun yai tentakel tipe dendritik dengan percabangan tentakel bebentuk pohon dan berukuran relatif panjang. Makanan bangsa ini berupa partikel tersuspensi (eston) dan planton.

Penyebaran teripang di indonesia sangat luas. Beberapa daerah penyebarraan antara lain meliputi parairan madura, jawa timur, bali lombok, sumba,  aceh, bengkulu, bangka, riau dan sekitarnya, belitung , kalimantan, (bagian barat, timur, dan selatan), sulawesi, maluku, timor, dan kepulauan seribu Sementara  di  Indonesia,  teripang  dimanfaatkan  terutama  sebagai  bahan  makanan. Sebagai bahan pangan, teripang mempunyai kadar protein tinggi yaitu 82%. Di samping itu, teripang mengandung asam lemak tidak jenuh jenis W-3 yang penting bagi kesehatan jantung.

Teripang dapat ditemukan hampir di seluruh perairan pantai. Teripang lebih menyukai  perairan jernih dan  air yang  relatif tenang.  Namun, setiap jenis  teripang memiliki habitat yang spesifik. Sumber makanan utama teripang di  alam  adalah kandungan  organik  dalam lumpur, detritus (sisa  pembusukan  bahan organik), dan  plankton. Sumber makanan lainnya diantaranya adalah organisme-organisme kecil, protozoa, nematoda, algafilamen, rumput laut, partikel-partikel pasir.

[PERIKANAN]: Biologi dan Ekologi Teripang Ekonomis (bagian 5)

Indonesia sedikitnya ada 26 jenis timun laut yang pernah atau masih tercatat diolah untuk diperdagangkan sebagai teripang. Semuanya   termasuk   ordo Aspidochirotida atau Dendrochirotida. Daftar ini sebagian besar diperoleh dari publikasi peneliti Indonesia di bidang perikanan, dan bukan tulisan taksonomi. Pemberian nama tersebut sering dikonfirmasikan dengan istilah- istilah yang  dipakai nelayan. Pada kenyataannya, kadang penamaan ini mem- bingungkan : satu nama ilmiah (internasional, Latin) merujuk ke lebih dari satu nama daerah, atau  sebaliknya. Atau,  beberapa  daerah menggunakan nama lokal yang sama namun merujuk pada jenis yang berbeda. Contohnya, teripang gamet untuk menunjuk Stichopus variegatus dan Actinopyga miliaris, atau teripang lotong untuk menunjuk Holothuria nobilis dan Actinopyga miliaris.

Memang akan besar kemungkinannyanelayan memberi nama yang sama pada 2 atau lebih jenis teripang. Sangat disadari bahwa untuk peneliti pun, identifikasi jenis melalui sampel yang telah dikeringkan (diproses) merupakan hal yang sulit, apalagi jika hasil pengeringannya tidak baik. Berdasarkan hal ini, perlu dilakukan penyeragaman nama lokal menjadi nama nasional teripang-teripang Indo- nesia, untuk menghilangkan keraguan dalam penentuan jenis, dan memberi kemudahan dalam monitoring dan pengelolaan. Pembakuan nama jenis teripang ini penting karena setiap jenis memiliki karakter yang spesifik (jenis dan kebiasaan  makan,  pilihan  habitat,  pola reproduksi, kecepatan tumbuh dan sebagainya). 

Dengan demikian, sistem pengelolaannyapun, pada level tertentu, akan berbeda penyeragaman nama ini akan memudahkan komunikasi antara nelayan-peneliti-pedagang dan pengambil keputusan. Ada yang menarik dalam penamaan dagang teripang di pasar dunia. Beberapa jenis teripang diberi nama sesuai dengan nama Indo- nesia (atau sebaliknya), seperti teripang susu, teripang pasir dan teripang batu masing-masing untuk susufish/white teatfish, sandfish dan stonefish. Perlu pembuktian lain agar dapat dipastikan bahwa Indonesia merupakan produsen  dan  eksportir  teripang  tertua, sehingga  nama  yang  diberikan  di  pasar internasional adalah nama yang berasal dari  nelayan Nusantara.

Hingga sekarang, di dalam daftar komoditi ekspor hasil laut yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia, teripang tidak pernah dipisahkan berdasarkan jenisnya. Dengan demikian, amatlah sulit mengetahui daerah- daerah yang merupakan kantong produksi untuk jenis tertentu.

[PERIKANAN]: Biologi dan Ekologi Teripang Ekonomis (bagian 4)

Awal Mula Perdagangan Teripang Di Indonesia

Publikasi ilmiah pertama tentang timun laut Indonesia dilakukan oleh Selenka (1867) yang spesimennya dikumpulkan dari Ambon. Sebelumnya, expedisi besar Rhumphius melakukan pengumpulan biota dari perairan Maluku tahun 1705 (Massin, 1996). Beberapa catata sejara menunjukka adanya perdagangan teripang sejak lebih dari 300 tahun. Menengok abad 13-17, Nusantara merupakan negara maritim yang menjadi salah satu pusat perdagangan dunia. Sistem perkotaannya terbentuk di tepi laut seperti pesisir utara Jawa. Ini memberi kemudahan masyarakat (nelayan) Nusantara pada zaman itu untuk melakukan kontak  dagang  hasil  laut  dengan  dunia internasional. Salah satunya adalah dengan bangsa Cina di abad 16-17 yang diduga mendorong munculnya perikanan teripang Indonesia (Stacy, 1999; Ham, 2002).

Ke arah selatan, sejarah membawa kita ke kunjungan nelayan nusantara untuk berburu teripang ke perairan Australia sejak awal abad 17. Wajar jika kemudian Indonesia termasuk negara pengekspor teripang tertua. Istilah 'trepang' di pasar internasionalpun berasal dari kata teripang yang digunakan oleh nelayan Indonesia (Fox, 2000; Morgan dan Archer, 1999; Conand, 1990; Conand dan Byrne, 1993).

Saat Belanda mengalahkan Makassar di Buton tahun 1667, dan membuat batasan perdagangan bagi orang Makassar, banyak di antara mereka yang melarikan diri ke Teluk Carpentaria di Australia, dan mereka kembali dengan memuat teripang. Periode ini yang kemudian menjadi perkiraan awal dimulainya industri teripang di Indonesia (Mcknight 1976). Bukti lain yang mendukung sejarah ini adalah catatan Flinder dan Pobasso di tahun 1803, yaitu tentang nelayan Makassar yang sudah sejak dua puluh tahun sebelumnya berlayar mencari teripang ke pulau-pulau sekitar Jawa sampai ke daerah kering yang terletak di  selatan Pulau Rote dan Pantai Kimberly, Aus- tralia Barat (Clark, 2000; Mcknight, 1976). Peninggalan tahun 1623 yang ditemukan di Jakarta (waktu itu bernama Batavia) yang berupa wadah-wadah  teripang  dari  Cina,  ikut mendukung peninggalan sejarah perikanan teripang Indonesia (Stacy, 2001; Dwyer, 2001, Campbell  dan  Wilson, 1993).

Teripang menjadi jembatan pertemuan dua  budayaAborigin  di  Australia  dan Makassar di Indonesia. Bukti pelayaran orang Makassar ke pantai barat laut dan utara Austra- lia banyak terdokumentasi dalam bentuk lukisan tradisional bangsa Aborigin di dinding-dinding goa. Peninggalan sejarah yang lain adalah model kano (canoe) dan penggunaan kosa kata oleh orang-orang Aborigin seperti 'balanda' untuk menunjuk  orankuliputihSelaiitu, ditemukan juga dokumen peraturan pajak dan perizinan tahun 1882 untuk nelayan Makassar yang mengambil teripang di perairan Northern Territory. Suku Makassar diakui sebagai penemu Pulau Pasir (yang kemudian diberi nama Ashmore Reefs) yaitu sekitar tahun 1728, bukan Samuel Ashmore yang berlayar mencapai daerah tersebut pada tahun 1811 (Bannett, 2001; Clark, 2000; Dwyer, 2001; Mcknight, 1976; Fox 1992; Stacy 2001).

Perburuan teripang oleh nelayan Nusantara terus berlanjut hingga sekarang terutama oleh suku Bajo, Makassar, Bugis, Buton dan Madura, dengan daerah perburuan yang terus bertambah sempit. Teripang, bersama-sama dengan sirip ikan hiu dan penyu diekspor ke Cina. Dalam review Mcknight (1976) dikatakan bahwa awal abad 18, bangsa Eropa memberi batasan perdagangan bagi bangsa Cina, termasuk mengadakan transaksi di timur Indonesia. Ini mendorong nelayan nusantara membawa dagangan yang berupa produk laut termasuk teripang ke Singapura dan Kalimantan Utara. Nelayan Bugis menjadi salah satu yang mencatat sejarah dalam perdagangan ini. Tahun 1830 misalnya, sebanyak 180 perahu Bugis mendarat di  singapura membawa hasil laut dari perairan  timur Indonesia. Namun demikian, Fox (2000) percaya bahwa teripang, sirip ikan hiu dan penyu sudah menjadi produk perdagangan bagi suku Makassar, Bugis, Bajo dan Buton sejak lebih dari 500 tahun yang lalu.

Chen (2003) memaparkan kembali informasi dari hasil penelitian terdahulu, bahwa sejak dari awal sejarah perikanannya, teripang dikumpulkan untuk mensuplai kebutuhan bangsa Cina. Di Cina sendiri, sebagai negara konsumen terbesar hingga saat ini, pengenalan teripang dimulai sejak Dinasti Ming (1368-1644 BC). Teripang tertulis di buku medis tradicional sebagai tonic dan obat tradisional, antara lain mengandung banyak protein dan rendah lemak. Diramu dengan komponen yang lain, teripang dipakasebagaobauntumemelihara kesehatan darah, penyembuh penyakit ginjal dan sistem reproduksi.

Melihat sejarahnya, dimana istilah teripang sudah dipakai sejak lebih dari 3 abad yang lalu, mungkin bisa dikatakan bahwa teripang yang sekarang ada di perairan kita, juga merupakan hewan asli (indigenous species) Indonesia. Selain tidak memiliki pola migrasi dan hidup sebagai hewan bentik di berbagai ekosistem laut dangkal, dengan pergerakan kurang dari 300 cm/hari (Hamel et al., 2001), jenis-jenis teripang tidak pernah dilaporkan diintroduksi ke perairan Indonesia. Bisa dimengerti karena memang bentuknya yang tampak tidak terlalu indah, dan walaupun harganya mahal, namun sifat-sifat alamiah kelompok teripang bisa jadi menyulitkan transportasinya. Jika ada gangguan, beberapa jenis teripang mengeluarkan tubulus Cuvier yang sangat mengganggu karena bergetah. Jika gangguan berlanjut, maka organ dalamnya didorong keluar tubuh (evisceration). Kulit teripang juga mudah terluka jika terjadi gesekan. Luka ini mudah terinfeksi, dan menular ke individu yang lain. Jika ini dibiarkan, akan membawa ke kematian individu yang terluka. Sayang sekali Indonesia belum memiliki ahli sistematika atau evolusi timun laut, karena dari lmu inilah akan diketahui sejarah evolusi dan penyebaran timun laut.