CINTA BILANG SIAPA CINTA

Oleh Yar Johan

 

"Intan bagaikan Bidadari yang hinggap di telaga hatinya. Laksana butiran hujan yang jatuh di saat musim kemarau melanda. Artinya kehadiran Intan di kancah kehidupannya sangat berarti sekali. Dimana-mana ada intan "

 

Edo mempercepat langkahnya. Hujan gerimis tak dirisaukanya. Bajunya sedikit basah, ditengadahkanya pandangan kelangit. Langit gelap tak berbintang. sepertinya Edo tak peduli dengan situasi yang tak bersahabat kali ini. Tak jadi penghalang bagi Edo untuk pergi ke rumah Intan. Senyum Edo mengembang bila mendengar nama tersebut walau tubuhnya basah dengan air hujan dan keringat. Kenapa tidak, bukan intan yang di sering di jual di toko perhiasan itu. Salah besar. Beda. Jauh sekali. Intan, siapa yang tak kenal gadis itu.
Satu bulan yang lalu Edo dan Intan berkenalan. Di Gedung Juang mereka pertama kali ketemu. Saat itu sedang berlangsungnya Pameran Seni Budaya tingkat pelajar Se-Pekanbaru. Intan memang gadis yang cantik, sebanding dengan nama yang kini dia sandang. Cantiknya minta ampun nggak ketulungan. Sesungguhnya bagi Edo Intan bagaikan Bidadari yang hinggap di telaga hatinya. Laksana butiran hujan yang jatuh di saat musim kemarau melanda. Artinya kehadiran Intan di kancah kehidupannya sangat berarti sekali. Dimana-mana ada intan. Kemana dan dimana Edo bayangan wajah Intan selalu hadir.


Satu bulan bukanlah waktu yang pendek bagi Edo. Aneh, semenjak jumpa pertama dengan Intan, kegalauan hati Edo semangkin menjadi. Apalagi tak berjumpa dengan Intan, sesungguhya Edo begitu tersiksa di dalam sangkar kerinduan yang menggebu. Entah apa yang sedang terjadi sama diri Edo sesungguhnya.
Cinta bukan untuk diperdagangkan  namun diabadikan
Memang setelah pertemuan pertama itu, Edo dan Intan tak pernah ketemu lagi. Hati Edo begitu tersiksa. Walau setiap hari sms dan surat melulu selalu melayang saling mewakili antara mereka. Tapi itu tak cukup, kurang sangat kurang sekali. Sekarang ini bukan itu jawabanya.
Sudah berulang kali Intan meminta Edo untuk datang ke rumahnya. Edo sendiri tak bisa, bukan berarti Edo tak mau, tak rindu dan tak cinta. …upst cinta tahan dulu. Maaf keceplosan. Akhir-akhir ini Edo disibukkan oleh studynya dan satu lagi yaitu organisasi. Jadi di agendanya satu minggu itu tak ada jadwal sedikitpun untuk pergi ke rumah Intan. Jam terbangnya sangat padat. Pagi study di sekolah. Pulangnya sore. Malamnya les privat pelajaran tambahan. Terus malam minggukan bisa? Entah Edo tak habis pikir setelah mengikuti pemeran seni budaya antar pelajar tersebut sekolahnya menetapkan malam minggu belakang ini penuh dengan kegiatan. Maklum saat mengikuti pameran seni budaya antar pelajar school Edo juara satu. Siapa tak bangga, ya ngak! Se-Pekanbaru. Bayangkan! Siapa dulu, Edo. Karena itu Jam tayangnya di tingkatkan….emangnya selebritis. Jadi tak ada ruang bagi Edo untuk berjumpa dengan pujaan hatinya. Siang minggu, gimana? Itu acara keluarga, kesepakatan tak boleh di ganggu. Lagian ngak etis main ke rumah cewek siang hari. Apa kata teman-temanya nanti bila tahu. Bisa berabe.
Ada malam kebersamaan antar anggota OSIS, kemah pelantikan anggota pramuka dan mabit 1) sesama anggota Rohis serta masih banyak lagi kegiatan yang lain. Edo sendiri sebagai Ketua OSIS dituntut harus hadir. Sebuah kewajiban. Itu merupakan beban moral dan batin yang diamanahkan kepada Edo. Edo sendiri mau tak mau, suka tak suka harus ia lakoni.
Terus bagaimana dengan Intan, apakah Edo tak merindukan gadis yang selalu menghantui hari-harinya itu. Penampakan kalie ye!!!.
Loe datang dulu, Edo. Kasihan ama Intan. Sudah seratus kali dia titip pesan buat loe, ntar di bilangnya gue kagak nyampein ama loe. Bisa kiamat ” Kata Pasdi yang notebene adalah sahabatnya sendiri. Kebetulan satu sekolah ama Intan. Satu minggu yang lalu.
“Pasdi, kalau sekarang kayaknya untuk kesana tak ada waktu. Malam ini ada kegiatan malam kebersamaan sesama anggota OSIS nggak mungkinlah aku ninggalinnya begitu saja. Bukan aku gak mau. tapi apa boleh buat ya seperti ini realitanya” Jawab Edo polos.
“Loe mesti bangga. Kalau cewek kayak Intan itu seribu banding satu di bumi ini. Yang jelas bila loe, suka ama Intan. Temui dia. Sebelum dia digaet 2) ama orang lain. Gue juga mau kok. Sepertinya Intan jatuh hati ama loe” Terang Pasdi pada sahabatya sendiri yang kelihatanya masih bingung.
“Loe punya rasa ama Intan, Edo?”Tanya Pasdi semenit kemudian.
“Maksudnya?”Edo balik nanya. Pura-pura gak tahu apa maksud dari temannya satu ini.
“Loe, masih normalkan, Edo? Gue lihat loe dingin amat ama cewek. Tak ada respon. Mentang-mentang Ketua OSIS. Itu kesempatan buat loe. Peluang, peluang! Loe telmi amat sih. Gue curiga, jangan-jangan loe…” Edo meninggalkan Pasdi yang perkataannya masih menggantung. Pasdi ketawa dengan apa yang barusan dia ucapkan. Dasar. 

* * *
Normal, tentulah Edo masih normal, kok. Edo mematung di depan cermin. Dipandanginya wajahnya di dalam cermin. “Ah, ngak jelek amat, sih”. Gumamnya. Sudah lama Edo tak seperti ini. Diamatinya lebih teliti lagi satu sosok yang ada di depannya. Adakah yang aneh! Menimpa diriku akhir-akhir ini. Edo mencoba membuka kembali file yang masih tersimpan pada memori di kepalanya. Wajah Intan kembali menghias di pelupuk matanya.. Di dalam cermin terlihat muka Edo begitu gembira dan bahagia.
”Intan, Intan “ Gumam Edo. Tak lama berselang keningnya terlihat berkerut sejenak. Pupus keceria bersama bayangan Intan. Perkatan Pasdi masih bersarang di gendang telinganya. Pasdi bilang nanti Intan bisa digaet orang lain. Ini tak boleh terjadi.
“Pasdi, malam ini akan ku buktikan padamu sobat, Aku harus bisa” Batinnya berujar pada sosok yang sedang berdiri di depan cermin siapa lagi kalau bukan sama dirinya sendiri.
“Apalagi malam inikan malam minggu, tepat” Batinnya berteriak kegirangan..
“Katanya malam ini ada kegiatan di sekolah. Kok, belum berangkat?” Tanya Anita. Sang Bunda belahan hati Edo tiba-tiba sudah berdiri tak jauh dari tempat Edo, yang masih asik berdiri di depan cermin. Tante Anita tersenyum sendiri setelah mengamati tingkah Edo sejak dari tadi. Anak sulung yang sangat ia cintai.
“Abang Edo, keren abis ya Bu malam ini. Mau kemana?” Lesti bersuara mendekat ke arah Ibunya. Adek Edo yang centil abis. Nada dan mimik wajahnya berbaur satu. Heran melihat Abangnya sendiri yang biasanya alergi amat berdiri lama-lama, apa lagi di depan cermin. Masa bodoh.
“Yang benar? Ngak kemana-kemana, kok. Cuma…Oh, ya. Bu, kalau Edo pakai baju yang ini bagus kan, Bu?”Tanya Edo tiba-tiba. Tante Anita hanya mengangguk pelan.Wajah Intan kembali melintas di benak Edo. Bahagia.
“Abang, ini permennya” Lesti menyodorkan ke arah Edo.
“Letakkan di atas meja. Makasih ya, manis. Adek Abang cantik sekali malam ini” Tanpa melihat lagi apa yang barusan Lesti beli.
Muak! Lesti kepengen muntah. Sejak kapan Abangnya seromantis seperti ini. Gawat. Barang kali mungkin salah makan obat. Lesti diam aja kayak patung. Sewot, gitu lho? Sambil mengunyah permen kesukaanya itu.
“Kok hanya dua. Mana cukup. Ngak mungkinlah. Ayo mana yang lainya?“ Setelah Edo baru sadar permen tak sesuai dengan apa yang dipesankannya. Di tatapnya mulut Adeknya yang centil lagi asik ngunyah sesuatu. Pasti permen.
“Lesti, mana yang lain?”
“Emangnya buat apa, sih. Abang bilang makan permen tak boleh dan ngak bagus ntar rusak gigi, bikin sariawan. Eh, sekarang gimana? Segitu di bilang kurang. Kedai Pak Cun. Permennya tinggal lima. Separuhnya sudah Lesti makan. Adilkan. Abang taukan kalau Lesti paling doyan ama permen” Lesti membela diri dengan senyum kemenangan kemudian keluar dari tempat itu. Menghindar. Tak dilihatnya Edo dengan mata merah membara. Marah.
“Abang Edo, yang waras ngalah ya?” Teriak Lesti kini sudah di depan Tv. Semenit kemudian.
“Benar juga” Edo baru ingat kalau dia pernah bilang kalau makan permen itu gak boleh. Bahkan dia melarang keras pada adeknya. Jangan coba-coba makan permen. Ya, ajalah dari pada benjol. Edo dari kecil paling ngak suka makan benda itu. Tapi, sekarang …gak tahu.
“Intan, ini demi Intan” Pikiran Edo melayang kembali pada wajah gadis yang akan dia temui malam ini. Edo ingat di bilang Bagas tempo hari
“Edo, kalau pergi ke rumah cewek. Kamu harus bawa permen. Di jamin asik ngobrolnya. Bau napas kita segar terus pikiran kita juga jernih. Ngobrolnya nyambung” Bagas teman Edo. Yang sudah berpengalaman di bidang ini. Dulu Edo berpikir. Apa hubunganya antara permen dan pikiran. Ngak nyambung. Tapi setelah mendengar dari teman-temannya kalau mereka semuanya rata-rata ya bawa permen. Sekarang, Edo coba ngikut. Tapi jenis permennya apa?. Sebab Edo lupa nama permen yang dibilang teman-temannya habis gimana Edo mau tahu kalau Edo sendiri paling takut makan permen. Sudahlah, bodoh amat. Jelasnya permen sudah ada di tangan yang penting permen. Senyum Edo kembali mengembang. Intan, senyum gadis itu melintas kembali di pelupuk matanya. Permen di taruhnya di dalam saku celana.
Kring, kring, kring. Suara dering telpon berbunyi. Lesti berlari ke ruang tamu. Telponnya di angkat.
“Abang Edo, telpon buat Abang”Teriak Lesti. Edo melangkah menuju ke sana.
“Dari siapa?”
“Abang Aji” Jawab Lesti ketus.
Semenit kemudian.
“Aji, tolong bilang sama teman-teman. Aku datang sekitar pukul sembilan. Sebab Ayahku belum pulang dari Kantor. Tolong ya”
“Tapi, Edo. Teman-teman sekarang sedang menunggu kamu. Tahu sendirikan kalau kamu ngak ada. Apalagi bila kamu tak datang” Terdengar suara dari seberang
"Iya, Aku tahu”
“Bagimana kalau aku yang jemput kamu? “ Aji tawarkan diri.
“Aduh, Aji. Terima kasih. Bukan aku ngak mau, Ibuku belum menyuruhku berangkat sekarang. Entah, di jalan ke mayoran akhir-akhir ini rumah penduduk sering di masuki garong. Pesan Ayah, tunggu dia pulang dulu baru boleh aku berangkat. Percayalah aku pasti datang” Jawab Edo walau sedikit berbohong. Kalau mengenai garong benar adanya.
“Sudahlah, yang jelas malam ini aku harus ketemu ama Intan” Guman Edo dalam hati. EGP. Emang gua pikirin. Jelasnya pertemuan Edo dan Intan harus mulus tak ada hambatan. Rencananya harus berhasil, apapun caranya yang harus Ia tempuh.
“Bisakan, Aji. Aku pasti datang nanti”
“Iya, udah. Tak apa-apa kok. Gue berharap yang loe bilang, benarkan?”
“Kamu, gak percaya Aji?” Edo meyakinkan.
“Ngak, Cuma bercanda aja, kok.”Ujar Aji. Kemudian ganggang telpon ditutup. Alhamdulillah, berhasil. Langkah Edo menuju ke ruang depan. Tapi pikirannya masih tertuju dengan apa yang dikatakan Aji barusan. Malam ini di sekolahnya mengadakan lomba pidato tingkat pelajar se-Pekanbaru. Pembukaanya sudah di resmikan ama kepala sekolah tadi pagi. Sedangkan malam ini adalah acara lanjutanya. Aji sendiri sebagai ketua panitianya. Lucu, amat. Edo sendiri sebagai Ketua Osisnya belum bisa datang lebih awal. Ya, itu tadi. Intan masalahnya. Gak tau, ah gelap. Emangnya Ketua OSIS gak boleh asik sedikit. Lagian acara mulainya pukul delapan sedangkan sekarang baru pukul tujuh. Edo melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganya. Mudah-mudah …berhasil.
“Intan, aku pasti akan penuhi janji ku” Lirih Edo pada angin. Kemudian pamitan pada Ibunya.
“Edo, sebentar lagi mau hujan. Nanti aja tunggu dulu, Ayahmu pulang”Ujar Tante Anita.
“Gak, apa-apa kok, Bu. Hujannya kan belum turun”.
“Lihat di sana, warna langit gelap itu sudah pasti mendung, sebentar lagi hujan” Tunjuk Tante Anita pada anaknya satu ini.
“Mendung belum tentu hujan kan, Bu. Edo pergi dulu ya. Assalamu’alaikum” Tante Anita menatap ke depan melihat anaknya malam ini kok, bahagia sekali. Ada rasa kuatir di tubuhnya yang ia rasakan. Selanjutnya Tante Anita geleng-gelengan kepala melihat kelakuan anaknya malam ini, kok lain seperti biasanya.

* * *
Aduh, opletnya mana ya? Edo berdiri sejenak. Sepertinya malam ini gak bakalan ada oplet. Alasanya tadi siang para sopir oplet demo mogok. Gar-gara apa coba. BBM naik. Sial!. Pulang lagi gak mungkin. Malu…ah. Mendingan jalan aja. Ya gak! Langkah Edo begitu gagah. Ditatapnya langit memang gelap. Mudah-mudahan apa yang dibilang Ibunya tak jadi kenyatan, Edo minta hujannya ditunda dulu. Kalau udah ngobrol ama Intan baru boleh hujan. Kan asik. Intan…malam ini aku ingin membagiakan hati mu. Edo ingat, kejadian saat itu Intan minta antar pulang sebab Ia tak punya teman so dengan penuh rasa yang berkecambuk dengan riangnya hati Edo. Gaung bersambut. Apa lagi rumahnya Intan bisa dijangkau dengan jalan kaki lumayanlah tak begitu jauh dari Gedung Juang. Tak kala tatapan mereka beradu. Senyum manis Intan terukir begitu indah. Manis sekali itu yang Edo suka. Melihat itu Edo jadi salting salah tingkah. Sebanarnya saat jumpa pertama getaran-getaran itu sudah ada namun Edo tak mau tergesa-gesa. Lihat dulu perkembanganya. Kesan pertama begitu menggoda selanjutnya…terserah!
Setelah mengantarkan Intan, Edo kembali ke tempatnya semula. Intan…gumam Edo berbisik pada malam. Namun matanya terbelalak ketika tahu ternyata yang di bilang Tante Anita. Ibunya Edo benar. Harapan pupus sudah. Permintaanya tak dikabulkan ama Tuhan. Edo mempercepat langkah kakinya selanjutnya disusul oleh satu-persatu titik gerimis dan …bbrr…kemudian berubah menjadi hujan yang makin lebat. Edo berlari kencang menjangkau sebuah warung dipinggir jalan. Bajunya sebagian sudah basah. Napasnya turun naik. Ya ampun, kok bisa seperti ini. Oh Tuhan, tolonglah, jeritnya dalam hati. Terpaksa Edo menunggu hujan reda. Sementara waktu tak bisa diajak kompromi, sekarang sudah jam setengah delapan. Sedangkan pikiran Edo menerawang jauh menggapai impiannya bersama sang pujaan hati, Intan. Hujan sial! Hardiknya.
.Edo mencoba tenang. Bau parfum napoleon yang melengket di tubuhnya sudah berkurang habis sudah berkolaborasi antara keringat dan air hujan. Ditambah rambutnya mengalir cairan putih. Habislah minyak rambut gatsbi wixx. Berganti dengan cairan berwarna putih. Malu…ntar dikira congek 3). Aduh! Suara hujan sedikit reda, ia beranjak dari situ. Langkahnya semangkin mantap. “Pasdi, akan ku buktikan! lihatlah nanti” Edo berujar sendiri. Sepertinya kata-kata Pasdi kemarin itu sudah melekat diurat saraf Edo. Benci. Panas. Anita… sambutlah kedatangan ku. Tapi langkah Edo berhenti “ Jangan-jangan Intannya gak ada di rumah” Hati Edo mulai ragu.
“Edo, kalau main ke rumah kasih tahu dulu ama aku. Biar nanti kamu nggak kecewa”
“Emangnya kenapa?”
“Ngak, kok. Kalau aku ada di rumah tak masalah. Takutnya ini… bila aku gak ada. Kamu udah capek-capek ke sini tak ada hasil apa-apa” Dialog mereka saat saling telpon-telponan itu udah dua minggu yang lewat.
“Jangan lupa ya!” Pesan Intan.
Gimana, ya. Edo. Mikir sebentar, akan pesan gadis ayu tersebut. Benar juga kalau…Biar ajalah kedatangan aku kesana mau bikin kejutan ama Intan. Pasti asik. Intan bakalan bahagia. suprise. Kalau dikasih tahu bukan kejutan, donk!
Jarak rumah Edo dengan Intan sebenarnya relatif jauh. Bila berjalan paling-paling habis waktunya memakan setengah jam lebih. Tadi siang, rencana Edo mau pakai supra fitnya apa boleh buat. Paman Hari. Adik Tante Anita datang meminjamnya karena motornya sekarang lagi dibengkel. Apa boleh buat. Makanya Ibunya bilang berangkat sama Ayahnya saja. Kalau ke sekolah tak masalah. Tapi ini lain, masa main ke rumah cewek pakai diantar segala. Nanti bilang Intan apa? Malu, gitu lho!
Kata-katanya sudah disusun oleh Edo secara apik. Tentulah, iya! Malam ini Edo ingin tampil sempurna di depan Intan. Malam pertama kali Ia mendatangi rumah seorang gadis.
“Kalau kata Bagas, ngapel namanya. Edo sempat bingung dan mikir. Kok, emangnya kita harus bawa apel sehingga namanya ngapel. Bagas Cuma ketawa aja. Bukan itu maksudnya. Bagas sebenarnya juga ngak paham. Mungkin bahasa gaulnya kali. Dan itu biasanya dilakoni malam minggu. Lagi-lagi wajah Edo jemberut. Mau malam minggu, senin, selasa, rabu, kamis sama aja pikir Edo. Tak ada istimewa. Lupa! Malam ini, kan malam minggu? Edo baru ingat. Gak juga…pikir Edo. Habis, malam ini Dia bisa ke rumah Intan. Dan itu udah pakai boong segala ama Ibu, ama Aji dan Lesti si centil.
Sebenarnya Edo kepengen kali merasakan, katanya ngapel itu asik. Sempat iri ama teman-temannya di sekolah. Semua sudah merasakannya kecuali ini..anak ROHIS 4).
Ih…takut. Kata mereka.
Dan Edo sering diledekin masa…Ketua OSIS kagak pernah ngapel. Kuno. Hasrat untuk itu udah lama. Tapi siapa yang cocok? Sebelum jadi Ketua OSIS aja udah banyak yang mau mendaftar. Ada Festi yang titip salam terus, Santi yang nanyain khabarnya setiap hari, Yanti yang malu-malu kucing bila di dekat Edo. Masih banyak yang lain. Apalagi sekarang udah jadi Ketua OSIS. Mike kepengen kali mau jadi Ibu OSIS terang-terangan di depan teman-temanya. Eh…salah maksudnya seperti Ibu Presiden yang mendampingi Presiden. Susah amat. Semua itu, Edo cuek aja. Tak ada hati. Tak ada ruang buat mereka. Jaim 5) ya pakai bahasa anak ROHIS . Jaga Iman gitu lho! Tampang Edo lumayan bila di banding ama Ricky Martin, Nicolas saputra, Andy Lau dan sederet seleb papan atas. Hanya…Beda tipis.
Kini, semenjak kenalan ama Intan entah sepertinya hasrat yang diidamkannya bakaln tercapai. Intan, kulitnya putih, cantik, ayu khabarnya dia jadi seleb di sekolahnya. Lumayalah sebandinglah sama Edo. Kayaknya Intanlah yang cocok. Bila berjalan berdua mereka ada yang bila kembar, mirip. Intan benar-benar sempurna. Saat Pameran Seni antar pelajar itu. So pasangan yang ideal. Jodoh berarti. Tapi…gimana dengan Intan sendiri? Sepertinya penjelasan dari Pasdi kemarin rasanya sudah mewakili. Bahwa Intan menaruh hati padanya. Asik…Donk! Mungkin Intanlah yang mampu membahagiakan hati Edo. Itu sebuah harapan.
“ Jangan terlalu berharap pada suatu mahluk tapi berharaplah kepada Allah, Edo. Bila kamu, berharap hanya pada Allah kamu pasti akan bahagia dan bila berharap pada makhluk…tunggulah, kamu bakalan akan kecewa” Ucap Ahmad. Ketua ROHIS sekolahnya. Disela-sela kegiatan mabit waktu itu. Ahmad, tahu apa dia! Jabat tangan ama cewek aja gak mau bahkan pandangannya menunduk terus kalau ada cewek di depan mereka. Gak normal. Ahmad yang seharusnya mendapatkan predikat seperti itu. Bukan Edo. Belum lagi kalau ama sama jilbaber yang rata-rata sombong. Jual mahal. Sehingga cowok-cowok tak ada yang berani mendekati para jilbaber apalagi untuk mengganggunya. Sebenarnya Edo tak tertarik untuk ikutan gabung ama anak ROHIS itu tapi apa boleh buat. Suka tak suka, mau tak mau Edo harus mau. Sebuah keanehan yang Edo rasakan, bila Edo bergaul sama mereka sama-sama anak ROHIS suasana hatinya teduh, tentram tak seperti bergaul ama Pasdi dan Bagas yang selalu ngeras pikirannya.

Kalau ketemu selalu ngucapin salam, terus nanya gimana shalatnya? Tilawahnya? Terus ngajak ada kegiatan pengajian. Wajah-wajah mereka selalu ceria dan gembira. Kalau Bagas ama Pasdi boro-boro nanya itu, shalat aja seminggu sekali, itu juga terpaksa karena malu. shalat jum,at. Edo juga shalatnya sering bolong-bolong.
Pengaruh Bagas dan Pasdi memang kuat terhadap Edo. Jangan sia-siakan masa muda mu. Manfaatkan. Kapan kita bisa poya-poya. Mumpung lagi muda, kalau shalat dan tilawah…mah waktu masih panjang. Nanti…kalau udah tua
“Ingat, Edo. Allah telah menjanji kan, kalau orang baik-baik nanti akan mendapatkan pasangan orang baik-baik pula dan sebaliknya…”
Ah…sudahlah, lupakan saja! Edo memejamkan matanya pelan-pelan. Tubuhnya sudah menggigil. Dingin. Apa kurangnya Intan, cantik, ayu, pintar dan kaya. Walau dengan tubuh sedikit basah. Paling-paling pulang nanti Edo udah ganti baju.
“Aduh, Edo bajumu basah. Ini pakai dulu baju ku. Ntar sakit?” Khayal Edo terhadap pujaan hati yang bakalan akan dijumpainya. Memang benar kini tubuh Edo menggigil kedinginan. Angin malam menusuk ke tulang ditambah dengan air hujan. Tak apa lah! Demi Intan.
Sembari tubuhnya menggigil, Edo sibuk memeriksa benar gak jalan ini menuju kerumahnya Intan. Wajar Edo sudah lupa satu bulan tak pernah ke sini. Dengan pasti di pilihnya salah satu jalan. Melangkah dengan gembira dan siulan yang bahagia. siapa tak bahagia bila sang pujaan hati kini benar-benar di pelupuk matanya. Edo akan berjumpa dengan Intan.
“Biarlah Intan, aku sengaja seperti ini. Biar kau tahu sesungguhnya diriku seperti apa terhadap mu. Aku ingin katakan dengan tingkah laku. Bukan dengan kata-kata. Aku ingin setia tak seperti Bagas dan Pasdi. Selalu gonta-ganti.
Retina mata Edo liar, menatap satu persatu rumah yang ada di sekeliling ini. Mudah-mudahan, Intannya ada. Yang di tuju tak ketemu. Langkahnya berlahan. Di setiap Rumah yang ada rata-rata adalah penghuninya yang lagi asik mengukir janji semu. Pohon akasia mata Edo tertumbuk ke sana. Benar, itu pasti rumah Intan. Sebab satu-satunya rumah yang punya Pohon akasia. Luapan kegembiraan Edo semangkin memuncak. Bayangan wajah Intan yang ayu semangkin jelas saja di mata Edo. Intan, ayo sambutlah kedatangan diriku, lirih Edo. Tepat Edo berdiri di jalan depan rumah Intan. Mata Edo menatap sesuatu di bawah akasia. Motor. Edo yakin bahwa itu bukan miliknya Intan.
Sebab Intan pernah cerita di surat mengenai siapa dirinya sesungguhnya. Sebersit di hatinya bahwa motor itu pasti punya tamunya Ayah Intan. Ah… bukan untuk Intan. Di buangnya jauh-jauh pikiran seperti itu. Sementara retina matanya semangkin liar. Di balik pintu terali besi tampak dari sana, ada sepasang yang sedang lagi asik-asiknya berdua. Kelihatannya bahagia sekali. Mesra amat seperti pengantin baru Persis di tempat Edo pernah mengobrol dulu sama Intan. Tapi itukan kayak wajah Intan. Jerit Edo.
“Mudah-mudah aku salah lihat, kali” Lanjutnya membatin lagi. Pura-pura melintas, untung lampu jalan sedikit redup. Dengan tatapan sedikit tertunduk. Takut diketahui. Di bagian sudut rumah Intan ada lagi yang mojok. Itu Mungkin adek Intan yang pernah diceritakan Intan ama Edo. Wajahnya mirip tapi rambutnya sedikit pendek dibanding dengan Intan.
Edo kembali lagi kearah tempatnya semula Di bawah pohon akaia. Bayangan wajah Intan yang cantik dan Ayu berganti menjadi wajah drakula. Begitu mesranya mereka, tak mengetahui bahwa mereka ada yang mengamati. Intan bercumbu dengan asiknya.
“Edo, kalau main ke rumah kasih tahu dulu ama aku. Biar nanti…”
Hatinya ingin teriak. Ke buru…bbrr… hujan turun semangkin deras. Sederas sesuatu yang mengalir di tubuh dan wajah Edo Pikiranya kembali menerawang jauh. Silih berganti Intan, Ibunya serta Aji. Wajah mereka sepertinya kabur ditelan oleh derasnya hujan. Kata-kata Ahmad kembali mengiang. Tubuhnya semangkin menggigil. Kedinginan. Edo memejamkan mata berlahan-lahan. Pusing. (Pekanbaru, februari 2004).


Keterangan
ü Mabit 1) = Malam Bina Iman dan Taqwa biasanya tempatnya di Masjid. Diisi dengan siraman rohani.
ü Digaet2) =diambil sama orang lain.
ü Congek 3) = penyakit telinga yang warnanya seperti nanah.
ü Rohis 4) = Rohani Islam. Kegiatan keislaman yang biasanya ada di sekolah-sekolah.
ü Jaim 5) = Jaga Iman dari godaan nafsu dan setan

Post a Comment