Susilo Bambang Yudhoyono| MEMOTRET KETIKA SBY MENJADI SEORANG MAHASISWA IPB|


Presiden SBY sampaikan orasi ilmiah di sidang terbuka Dies Natalis ke-50 IPB di Kampus IPB (Foto by @SBYudhoyono)


Ada sebuah kebanggaan bila seorang alumni sebuah Perguruan Tinggi bisa kembali ke kampus. Semuanya akan gembira. Siapa yang tak bangga, apalagi sosok alumni tersebut menjadi orang nomor 1 di negeri tercinta ini, negeri yang lagi galau. Negeri galau yang bentar lagi akan melakukan pesta demokrasi. Konon akan menjadi pesta demokrasi terbesar di dunia buat Tahun 2014. Kok bisa? Bayangin persiapan saja semua peserta demokrasi sudah rela mengeluarkan dana yang fantastik. Jual sana jual sini. Hutang sana hutang sini. Beruntung yang sudah punya modal. Wajar sebenarnya banyak terlahir koruptor-koruptor di negeri ini. Mengapa? Pesta demokrasinya kemahalan, kawan!. Berapa ya? Coba tanya sama KPU sebagai central panitianya. Saya sudah menanyakan. Konon biaya pesta demokrasi tersebut menelan dana 16 Triliun. Hal ini dua kali libat dibanding biaya pemilu Tahun 2009 yang menelan biaya 8,5 Triliun. 16 Triliun itu uang rakyat lho. Hanya buat pesta doank. Belum lagi partai dan indvidu-individu yang ikut berpesta. Wow. Kalau dana tersebut dijadikan modal usaha buat rakyat dan diberikan untuk beasiswa pendidikan anak-anak tidak mampu tentu sangat tepat dan rakyat menggunakan uangnya sendiri akan sejahtera.


Kembali ke topik awal. Kemarin tepat 20 Desember kampus saya patut berbangga karena seorang alumni "Maha Besar" itu pulang kampus. Kok "Maha"sich. Bayangin. Seluruh civitas akedemik IPB seperti orang asing dibuatnya. Wah, kalau SBY masih jadi mahasiswa sekarang pasti merasakan gondoknya. Asing bagaimana, kawan? Dosen-dosennya dikerjain sama SBY. Mungkin ini ajang balas dendam SBY waktu jadi mahasiswa kali ya. Gak kok. SBY waktu kuliah gak pernah susah. SBY adalah mahasiswa paling disiplin waktu kuliahnya. Malahan teman-temannya belum datang ke kampus SBY orang yang pertama datang ke kampus. SBY adalah mahasiswa yang cerdas dan paling rajin kuliahnya. Hebat bukan. Itu yang saya dapat dari beberapa sumber di kampus. Kok sekarang dibilang ngerjain dosen-dosennya? Kok iso? Bayangin dosen saya yang juga diamanahkan beraktivitas di Rektorat harus parkir jauh ke Fakultas dan beliau harus jalan lewat belakang dengan ngos-ngosan. Perjalanan yang biasa saya tempuh selama 10 menit. Iya kalau mahasiswa wajar. Tapi ini Bapak dosen. Parkir dimana kantor dimana? Beberapa stafnya memilih izin hari itu. Lha kok iso? Masalahnya tidak bisa masuk ke Rektorat. Terus nanti dari ba'da dzuhur habis isoma kalau masih dalam ruangan iya tetap harus dalam ruangan tidak boleh keluar-keluar sampai jam 17.00 WIB. Pokoknya sampai SBY sudah meninggalkan kampus IPB. Jadi dilarang keluar ruangan. Mau terkurung di ruangan. Bukankah jam kerja pelayanan kampus hanya sampai jam 15.30 atau jam 16.00. Waduuuh. Gimana yang mau menjemput anaknya pulang sekolah? Atau mengantarkan istrinya berobat waktu itu? Bukankah orasinya SBY di GWW yang jaraknya sekitar 200 meter dari Rektorat. Betul-betul SBY alumni yang "Maha". Kalau meminjam istilah Bang Rhoma. Terlalu.

Sebenarnya SBY. Saya atau kami sebagai juniormu sangat bangga Bapak bisa ke kampus. Bukankah jadwal Bapak begitu padat dan sempat-sempatnya Bapak meluangkan waktu untuk datang. Bangga. Saya pernah mengejar Bapak di wisudanya Kakaknya teman di Universitas Indonesia kebetulan yang wisuda Anisa Pohan menantunya, Bapak. Anisa Pohan satu kelas dengan Kakaknya teman saya. Saya pikir waktu itu Bapak bakal datang. Wah bisa ketemu Pak SBY, kebetulan juga pada waktu yang sama Pak Jusuf Kalla mendapatkan anugerah  Doktor Kehormatan (Doktor honoris causa) dari Universitas Indonesia. Namun yang ditunggu-tunggu hanya Ibu Ani Yudhoyono saja yang hadir menemani Anisa Pohan yang lagi berbahagia. Jangan-jangan karena Universitas Indonesia bukan almamater Bapak, ya? Atau jangan-jangan karena ada Bapak Jusuf Kalla? Iya sudahlah. Itu sudah lewat. IPB bangga Bapak ada waktu datang pulang kampus.

Tapi kira-kira Bapak selain orasi ada tidak Bapak menyumbangkan sesuatu buat almamater, Bapak? Sumbangan beasiswa buat mahasiswa berprestasi atau dosen-dosen berprestasi, bagian kebersihan yang berprestasi. Pokoknya penghargaan buat yang berprestasilah. Bapak harus tahu almamater kita langganan berprestasi lho, baik itu mahasiswa maupun dosen-dosennya. Sejak dari dahulu sampai sekarang. Baik nasional maupun internasional. Keren bukan? Tentu sebuah kebanggaan bila Bapak memberikan ucapan jabatan tangan sebagai ucapan selamat. Mumpung Bapak pulang kampus. Cukup dengan selembar sertifikat tidak apa-apa, Bapak. Bila tak bisa selembar sertifikat salam aja tidak-apa. Tapi kata seorang teman salaman dengan Presiden itu yang berharga. Mumpung Bapak sekarang masih jadi Presiden. Kalau tidak lagi jadi Presiden  lagi iya salaman gak perlu antri. Iya saya termasuk orang yang ingin salaman dengan Bapak. Apasih rasanya jabat tangan dengan senior yang sudah sukses. Menjadi nomor 1 di negeri yang konon katanya negeri kaya raya. Kaya budi dan kaya hatinya. Iya siapa tahu Bapak kalau jabat tangan saya, Bapak gak bakal galau lagi. Karena kami mahasiswa sudah minum pil anti galau, Bapak. Sudah terlalu sering kena penyakit galau sehingga sudah over galau penyakitnya. Akhirnya galaunya pada minggat karena minum pil anti galau. Jabatan dengan Bapak, siapa tahu menular kepintaran dan kedisiplinan ke kami junior-junior Bapak. Kan katanya Bapak kalau kemarin tidak jadi Presiden bisa jadi profesor di IPB. Profesor itu gak boleh galau lho, Bapak. Habis jadi Presiden nanti Bapak bisa daftar jadi Profesor ya. Bukankah syaratnya sekarangkan kalau mau jadi Profesor harus sudah Doktor.  

Oya Bapak, sempat tidak keliling kampus? atau lihat Fakultas-Fakultas? Banyak gedung-gedung yang baru lho, Bapak. Megah dan gagah bukan. Gedung CCR (Common Class Room) namanya, Bapak. Khusus untuk anak-anak TPB.  Sampai-sampai kampus kita yang terkenal dengan kampus yang tetap mempertahankan kontur alam itu lenyap sudah. Sepertinya Pak Rektor kasihan sama anak-anak TPB kali ya. Masa harus mendaki bukit yang lumayan tinggi. Itu lho, Bapak. Tanjakan di depan FMIPA. Ingat bukan? Mahasiswa TPB cukup mereka disibukkan dengan perkuliahan. Tugas yang menggunung. Mereka tidak boleh demo. Kenapa tidak boleh demo? Gak demo aja Bogor sudah macet. Apalagi demo, Bapak. Tenang Bapak, junior-junior Bapak tidak bakal demo Bapak deh. Moso demo keluarga sendiri. Saya pernah main ke Makassar dan waktu itu macet total, tau gak Bapak kenapa? Ternyata mahasiswa lagi demo. Selain mobil dan angkot, demo jadi penyebab macet rupanya. Makanya Pak SBY tidak suka lihat mahasiswa demo. Karena tidak suka lihat macet. 

Sayang tanjakan itu tidak ada lagi iya. Coba tetap dipertahankan. Kalau anak TPB mau keluar cari makan ke barra merekakan lewat itu tanjakan. Betul-betul berkeringat. Bikin sehat lho, Bapak. Itu tanjakan favorite saya kalau jalan kaki keliling kampus hari sabtu dan minggu. Oya Bapak sempat main-main ke asrama TPB? Cobalah lihat Bapak. Sepertinya perlengkapan tidurnya harus diberi yang baru. Tahun kemarin adek saya seluruh tubuhnya kena gigi kutu kasur sampai-sampai harus hijrah bersemedi keluar asrama. Awalnya tidak tahu apa penyebabnya. Pake obat nyamuk sudah tapi tetap aja gatal. Eh rupanya kutu kasur. Akhirnya susah tidurnya. Kasurnya terpaksa harus dijemur beberapa hari dulu biar hilang. Alhamdulillah hilang Bapak. Sumbang donk, Bapak. Saya cuma bercanda lho, Bapak. Jangan masukan ke hati. Bercanda sumpah hanya bercanda. Kami junior-junior Bapak, Bapak datang aja itu adalah kebanggaan tersendiri. Sumbangan terbesar buat Dies Natalis 50 IPB. Bapak menjadi saksi perayaan perak ulang tahun kampus kita. Terimakasih sudah datang. Kalau Bapak tidak jadi Presiden lagi main-mainlah ke kampus. Selamat ya buat seluruh panitia dan keluarga besar IPB sudah mendatangkan alumni yang "Maha Alumni".

Oya mudah-mudahan Bapak pulang kampus, bukan buat pesta demokrasi 2014 ya. Kalau boleh usul sebelum Bapak pulang kampus lagi. Bapak, harus evaluasi kedatangan pulang kampus kemarin ya. Masa guru-guru besar kita yang kita hormati harus menghentikan perkuliahanya. Iya beberapa junior Bapak yang ingin melakukan kuliah terpaksa tidak jadi kuliah hari itu. Junior-junior Bapak mau mengambil uang di ATM buat makan tidak boleh karena kata yang mengawal Bapak, ATMnya lagi mati lampu. Usut punya usut karena Bapak datang. Kok segitunya, Bapak. Aturannya dosen-dosen kita, guru-guru besar kita biasa lewat jalan gerbang utama kok tiba-tiba dilarang. Sudah diberi penghalang. Bapak tau acara Bapak jam berapa? Kami sejak pagi sudah tersiksa. Bapak tahu jalan yang dilewati buat masuk ke kampus kita ketika Bapak datang? Pintu gerbang satu itu sangat jarang dibuka. Pernah dibuka waktu perbaikan gapura gerbang utama kalau tidak salah selebihnya iya waktu kedatangan Bapak ini. Bapak tahu, kami junior-junior Bapak yang hobinya jalan kaki harus memutar 180 derajad dari jalan biasa agar bisa masuk ke kampus. Jangan ditanya keringat sebanyak apa. Tiba di ruang tidak jadi kuliah. Jangan ditanya macetnya jalan umum ketika Bapak datang.

Usul saya sebelum Bapak pulang kampus lagi. Berilah pengumuman seminggu sebelum kedatangan Bapak. Bahwa Bapak mau lewat dan bertamu. Aturanya ini. Tidak boleh seperti ini. Ini harus ditutup. Ini harus dimatikan. Ini harus dibuka. Jadi kami junior-junior Bapak dan masyarakat sekitaran kampus akan siap. Siapa tahu kami akan berbaris-baris di pinggir jalan sambil membawa bendera merah putih yang kecil dan Bapak lewat sambil melambaikan tangan. Seperti zaman Soeharto waktu kami kecil dahulu. Kelihatan romantis bukan. Siapa tahu kedatangan Bapak penyejuk hati kami. Kalau yang tadinya belum mengambil uang buat makan iya sehari sebelumnya dia mengambil uang dahulu. Bila ada perkuliahan langsung diganti hari yang lain. Bila pekerjaannya tukang ojek, Ketika Bapak datang dia bisa cari pekerjaan sampingan yang lain buat menghidupi keluarganya. Kami tak akan marah bila seperti itu. Cukup tempelkan selebaran-lebaran tak perlu yang besar-besar, Bapak. Agar kami tidak terkejut. Kami marah karena kami terkejut. Bukankah Bapak senang kalau melihat semuanya bahagia, kami juga ikut senang. Bapak Bangga dan kami juga bangga. Bapak masih takut ya keamanan kampus. Terjamin Bapak. Kampus sudah aman sekarang. Tak perlulah banyak-banyak bawa pasukan keamanan. Cukup yang inti-intinya saja. Keamanan kampus sudah lebih dari cukup. Karena bikin sesak pemandangan. Berapa banyak makanan yang disiapkan buat mereka. Unjung-ujungnya uang rakyat jugakan, Bapak. Kampus kita masih kampus rakyat lho, Bapak.  Apapun bentuk Bapak, suka tidak suka Bapak bertamu. Bapak tetap sebagai Alumni yang kami hormati dan kami banggakan. Semoga orasi Bapak yang mengangkat tentang  Pengarusutamaan Pertanian untuk Pembangunan Berkelanjutan betul-betul dari hati nurani yang ilmiah dan segera terwujud. Salam. Junior yang gelisah ketika kedatangan Bapak.

Beberapa photo Bapak SBY ketika menjadi mahasiswa. Paling atas ketika ujian terbuka doktor. Beberapa photo ini saya peroleh langsung dari photogarfer IPB. 
















BACA JUGA:

2 comments

Keren, bisa dapat memotret SBY menjadi mahasiswa. he,, he,,he,,,


Salam,

Reply

@INDRA: Photo diperoleh dari photografer kampus, gan.

Reply

Post a Comment