SEPEDA, SERAGAM SEKOLAH dan KEDUA PINTU SURGAKU


Oleh Yar Johan


“Ingatlah dimanapun kalian berada, rajin pangkal pandai hemat pangkal kaya. Belajar, belajar dan terus belajar"






Sejak kecil Aku memang suka dengan sepeda. Saat itu Aku masih duduk dibangku kelas 1 Sekolah Dasar sekitar tahun 1990an. Kisah ini sudah begitu lama namun sampai sekarang menjadi hal terindah dalam hidup Aku. Ayahku seorang petani maka kami tinggal di sawah. Sebenarnya Ayahku juga seorang nelayan namun itu kerja sampingan. Iya kami tinggal di tengah-tengah sawah. Jauh dari kampung. Kebetulan sekolahku ada di kampung. Oya kampungku di ujung selatan Provinsi Bengkulu.

   
bicycle by Mustang (sumber:kaskus.us)

  

Hari itu Ayah memberikan hadiah sebuah sepeda. Aku masih ingat merek sepedanya “mustang” namun sepeda keluaran tahun berapa Aku tidak ingat. Meskipun sepeda yang diberikan Ayah itu bukanlah sepeda baru, tapi hati kami begitu gembira terutama Aku. Akhirnya ke sekolah bisa naik sepeda. Jarak dari sawah ke sekolah kalau jalan kaki sekitar 2.5 jam itu kalo lewat jalan raya. Kalau mau lewat jalan pintas (jalan setapak) bisa 2 jam namun harus melewati kebun, sawah-sawah penduduk dan sungai besar. Lewat sungai ini yang sering dikhawatirkan sama Ibu. Tapi bagiku itu paling menyenangkan, meskipun seragam sekolah harus dilepas takutnya basah. Karena seragam sekolah cuma punya satu dipakai dari hari senin sampai jumat. Hari sabtu seragam pramuka. Biasanya kami baru lewat jalan pintas kalau pulang sekolah.
Hari itu kami berangkat ke sekolah. Ayah dan ibuku mengantar di pinggir jalan. Kebetulan kakak perempuanku sudah bisa bersepeda, itu berkat Pamanku. Pamanku punya sepeda ontel. Aku duduk di paling depan, Abangku yang kelas 3 duduk di paling belakang dan yang bawa sepeda Kakakku kelas 6. Jadi sepeda mustang kami pakai bertiga. Hari itu betapa senangnya hatiku. Serasa Aku yang bawa sepeda. Karena duduk paling depan dan stang sepedanya Aku yang pegang tapi tetap dilapisi oleh telapak tangan kakakku. Betapa menyenangkan naik sepeda ujarku pada Kakakku. Lebih menyenangkan dari pada berenang lanjutku. Apalagi angin sepoi-sepoi meniup rambut dan wajahku. Segar dan sejuk. Kadang-kadang mataku kupejamkan untuk menikmati saat melewati jalan lurus dan menurun.  Ketika ada jalan yang mendaki lumayan tinggi tapi rupanya kami tidak perlu turun, ternyata Kakakku bisa. Biasanya kalau jalan kaki Aku harus berhenti dulu. Bila sampe puncak jalan. Kakakku memang hebat. Tak terasa kami sudah tiba di sekolah. Cepat sekali pikirku. Aku bilang ke kakakku Aku mau belajar bersepeda. Kakakku mengiyakan. Setiba dalam kelas Aku begitu semangat belajarnya dan tak sabar menunggu waktunya pulang. Jam 10.00 pelajaran sudah selesai dan Aku harus menunggu kakakku yang keluar jam 13:00. Anak kelas 1 memang paling cepat keluar. Aku sudah duduk paling depan. Sepeda dikayuh oleh kakakku. Setelah melewati perkampungan dan jalan yang menurun. Tibalah di jalan raya yang kiri dan kanannya adalah persawahan. Kakakku menepati janjinya. Membisikkan kalo kakakku mau lepas tangannya dari stang sepeda. Belajar pegang stang sepeda dulu kata Kakakku. Sebenarnya sejak lepas dari halaman sekolah tadi, Kakakku sudah melepaskan pelan-pelan tanganku. Tidak lama. Bentar-bentar telapak tangannya sudah melapisin kembali tanganku. Kondisi belum aman. Bisa dihitung beberapa detik. Tapi Aku sudah senang sekali. Aku ingin kakakku melepaskan lebih lama. Aku begitu bersemangat.
Kakakku membisikkan lagi. Kakakku memberikan kepercayaan padaku. Tak ada rasa takut dan was-was dihatiku waktu itu. Aku menoleh kearah Abangku yang paling belakang. Aku perlihatkan senyum kemenangan. Abangku menyemangati. Sedangkan Aku baru pertama kali ini memegang stang sepeda. Iya begitu cepat kakakku meyakinkan aku. Aku pasti bisa. Begitu telapak tangan Kakakku berlahan di lepas dari punggung telapak tanganku. Kakinya tetap mengayuh sepeda. Tangannya sudah berpindah ada di pundak badanku. Sebenarnya, Aku pernah belajar bersepeda waktu aku jalan-jalan ke rumah Pamanku, diam-diam Aku sering coba-coba sendiri tanpa sepengetahuan mereka. Beberapa kali Aku jatuh namun terus coba dan coba. Mencoba memakai sepeda dengan posisi samping/miring. Sepedanya terlalu tinggi. Sempat ketahuan. Kata Paman sepeda ontel terlalu gede buat anak ukuran Aku saat itu. Mengobati kekecewaanku Paman mengajakku jalan-jalan pake sepeda, tapi Aku selalu duduk di belakang. Tatapanku lurus dengan penuh keyakinan. Sepeda melaju, tangan Kakakku mencekram kuat di pundakku untuk mengatur keseimbangan. Hanya dalam beberapa menit saja. Pegangan tanganku goyang dan gemetar sepertinya berat sekali. Sepeda yang kami naiki bertiga semakin melaju dan keluar dari jalan raya dan menerobos parit-parit persawahan. Pegangan tanganku terlepas dan aku masuk ke dalam parit. Parit yang penuh air dan berlumpur tepat membenamkan seluruh tubuhku terutama mukaku. Kejadian itu Aku rasakan begitu cepat sekali berlangsung. Otomatis baju seragam sekolahku basah semua dan sangat kotor. Penuh dengan lumpur.
Sepeda mana, kak? Saat kakakku mengeluarkan Aku dari parit sawah. Kata-kata itu yang pertama keluar dari bibir mungilku. Sepeda kata Kakakku sepedanya tidak rusak. Untung buku-buku semua tidak basah karena ada dalam tas dan yang pegang Abangku di belakang lanjutnya. Awalnya Kakakku cemas disangka Kakakku terjadi apa-apa dengan Aku dan Aku katanya bakalan menangis sebab tangan kiriku memar setelah sebagian lumpur yang menempel di lengan dan di mukaku dibersihkan namun Aku malah tertawa setelah menyadari tubuhku penuh lumpur. Kami semuanya tertawa terbahak-bahak seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Sepedanya tidak rusak tapi wajahmu yang rusak kata Abangku. Kami kembali tertawa. Aku begitu senang sepeda kami tidak apa-apa. Tapi kakakku cemas nanti dimarah sama Ayah. Kakak, besok bolehkan belajar lagi ya? Rengekku. Kakakku menganggukkan kepala ada rasa cemas yang takku tangkap. Sepanjang jalan Aku selalu tertawa dan banyak cerita yang terus aku ulang-ulang tidak ada rasa sedih. Kakakku hanya mendengarkan ocehanku selebihnya diam berbeda dengan Abangku sepanjang jalan selalu memuji keberanianku. Ocehanku semakin bersemangat jadinya.  Perjalanan menuju ke tempat tinggal kami tidak begitu jauh lagi. Melihat kondisiku seperti ini pasti bikin cemas Ayah sama Ibu kata abangku. Sekarang Kakakku yang pegang stang sepeda. Dari pinggir jalan Aku memanggil ayah dan Ibuku. Ayah mendekat. Aku bercerita. Ayah tidak marah dengan Kakakku. Malah tertawa. Apalagi mendengar cerita dari Kakakku kalau Aku mau belajar sepeda lagi besok. Waktu itu Aku ingat Ayahku bilang anak-anakku “Ingatlah dimanapun kalian berada rajin pangkal pandai hemat pangkal kayaKalau kalian rajin berlatih sepeda setiap hari kalian pasti bisa dan kita bisa beli sepeda ini karena menabung. Jangan takut untuk belajar. Rajinlah belajar dan terus belajar. Kalian pasti bisa. Sampai saat ini nasehat Ayah selalu Aku ingat. Nasehat Ayah sudah menjalar dalam perjalanan hidupku saat ini. Iya setiap kali Aku pulang kampung kata-kata itu sering diulang Ayah untuk anak-anaknya. Terutama untukku. Iya Aku pulang kampung kalau lebaran idulfitri saja bahkan pernah 2 tahun lebih Aku tak pulang-pulang. Apakah Aku tidak rindu dengan keluargaku dikampung terutama Ayah dan Ibu terkasih? Iya sebenarnya rindu. Rindu sangat. Namun kata Ayah itulah adalah perjuanganmu untuk belajar bagaimana belajar dalam pengorbanan hidup. Iya benar. Aku sekarang lagi belajar. Belajar memaknai hidup. Belajar menjadi orang baik, Belajar menjadi seorang anak, dan belajar agar bermanfaat buat sesama. Belajar, belajar dan terus belajar. Mengambil kata Bong Candra “ belajar keras, belajar cerdas dan belajar ikhlas”. Hidup terasa bermakna dan mententramkan jiwa.
Oya kembali lagi ke laptop. Selanjutnya Aku mengikuti langkah Ayahku yang sedang mengangkat sepeda menapaki pematang sawah. Aku besok bisa main sepeda lagi girangku. Belajar bersepeda. Aku mau bisa bersepeda seperti kakak. Anak Ayah memang hebat puji Ayah. Tapi tiba-tiba langkahku berhenti. Berat sekali melangkah. Ada awan gelap terlihat oleh mataku. Aku tidak tahu, apa yang terjadi denganku waktu itu. Yang aku ingat Aku sudah menangis dan teriak-teriak. Aku sudah di dalam petak sawah yang baru dibajak ayahku dengan kerbau. Berkumbang dalam lumpur yang kedua kata Abangku. Aku berteriak dan menangis. Ibuku tiba-tiba mendekat karena apa yang Aku katakan terdengar tidak begitu jelas dan mencoba membujukku. Ayahku, Kakakku dan Abangku bukan malah menjawab pertanyaanku tapi mereka tertawa terbahak-bahak melihat Aku memendamkan separuh tubuhku yang berbalut seragam sekolah ke dalam lumpur dan apalagi melihat jari-jemariku menari-nari bersama lumpur-lumpur tersebut. Tawa mereka semakin terdengar keras di gendang telingaku. Aku menatap Ibuku. Tatapan penuh harap. Ada hal yang Aku takutkan ketika itu. Bergemuruh dalam dada.  Jawaban itu tak kunjungku dapat. Tangisku kembali meledak saat Ibuku mencoba berusaha menggendong tubuhku. Tapi seragam sekolahku besok apa? Suaraku seperti dibawa angin menyusuri petak-petak sawah diantara tawa mereka.

(Jadi setiap berangkat sekolah Aku selalu bawa baju ganti yang sudah disiapkan Ibu. Dalam 3 hari Aku sudah bisa menjaga stang sepeda yang dibawa Kakakku. Belajar bersepeda ketika berangkat dan pulang sekolah. Seragam sekolahku akhirnya tak pernah kotor lagi. Belajar bersepeda bergantian dengan Abangku.. Ketika SMA, Aku sudah bisa membeli sepeda sendiri berkat menabung dari uang yang ku kumpulkan dari uang  beasiswa waktu SD dan SMP ketika itu. Aku mendapatkan beasiswa dengan belajar. Terimakasih Ayah dan Ibu. Doaku selalu berharap kedua pintu surgaku ini selalu terbuka. Iya Rabb jangan tutup dulu pintu-pintu surga itu buatku. Aku ingin membahagiakan Ayah dan Ibu. Merekalah jantung dan hatiku. Tuntun hamba yang kini sedang belajar ingin mengantarkan jantung dan hatiku menuju Rumah-Mu. Aamiin).

Janganlah berhenti untuk belajar dan menabung kebajikan. Terimakasih

3 comments

ceritanya sangat menarik gan....salut

Reply

Terimakasih sudah berkunjung. Good luck

Reply

Ane juga punya cerita unik saat belajar sepeda pertama kali gan,
sampe nabrak belakang mobil mahal, eh tapi sama yg punya mobil bukannya dimarahin malah dikasih duit buat benerin velg sepeda ane yang berubah bntuk jadi angka 8 ​ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ "̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ "̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ "̮

Reply

Post a Comment